Newest Post

Ketika Siang tak Lagi Terang

| Senin, 08 Juni 2015
Baca selengkapnya »

ketika siang tak lagi terang, ketika malam semakin larut. Aku terngiang kata-kata ibuk dan bapak. sekedar pesan yang sering aku abaikan saat menjadi buah hati kecilnya. Aku seorang anak TK yang polos waktu itu, sering membangkang dan iri pada sesama teman. Bagaimana aku tidak merasa iri? Ketika ayah dan ibu mereka mengantar dan menjemput ke sekolah, memandikan sehari tiga kali, menyuapi sebelum berangkat sekolah, bahkan sering menguncir rambut mereka dengan cantik, sementara aku harus melakukan semuanya sendiri karena ibuk sibuk dengan pekerjaannya di seberang pulau Madura. Bapak juga sibuk dengan kewajibannya di desa terpencil nan jauh, di salah satu sekolah dimana murid-muridnya selalu tak mengenakan sepatu dan tas plastic sebagai tempat peralatan tulis menulis seadaanya. Dengan kesibukan mereka setiap hari, bapak bahkan berangkat sebelum waktu pertama sholat dhuha di laksanakan dan pulang ketika aku hendak berangkat sekolah madrasah hingga larut malam. Sedangkan ibuk, aku hanya bisa menjumpainya sebulan sekali dan bila beruntung sebulan dua kali beliau datang untuk sekedar menengokku yang selalu di titipkan pada mbah, mbuk (mbah putri, orang tua bapak), maupun secara bergiliran di titipkan pada enam saudara bapak dan saudara-saudara ibuk bahkan tetangga. Ya,, aku memang anak titipan, setiap berangkat ke sekolah di kota, tetanggaku yang mengantarkanku, memboncengku dengan mengayuh sepeda butut, menyuapiku ketika aku mulai menangis dan merindukan ibu, memandikanku ketika aku mulai berlumuran debu-debu kotor lantaran marah dan kecewa karna ibu tak datang tepat pada waktu beliau seharusnya pulang ke rumah. Bagiku, sebaik apapun mereka waktu itu, tetap saja mereka sering membohongi anak kecil seperti ku, mereka bilang ibu akan segera datang untk menemuiku, ibu akan membelikanku baju baru, ibu tidak akan pergi lagi dariku tapi,, arghhh itu semua palsu. Nyatanya ibu sedang sibuk, belum jua datang dan lebih memilih meninggalkan aku daripada pekerjaanya. Katanya “Ini demi kehidupan kita. demi masa depan kamu juga”. Dan setiap dia pergi tanpa pamit padaku, aku hanya bisa menangis dan meraung selayaknya anak kecil saat itu. Ku akui, aku benci berada sangat jauh dari ibu. Setiap mau makan aku selalu memilih menyiapkan makananku sendiri, mandi sendiri, sholat sendiri, tanpa bapak tentunya. Hal yang dilakukan bapak setiap hari hanyalah membangunkan aku setiap subuh dan menyruhku pergi ke musholla untuk belajar mengaji, selain itu beliau hanya memberiku uang untuk sekedar jajan di sekolah. Siang hari, saudara perempuan bapak yang sering aku panggil “lek” akan menyeretku untuk tidur siang, bila aku tak mau maka dia akan menjewer telingaku dan mengunci semua pintu rumah agar aku tak bisa keluar kemana-mana. Aku terus saja meraung di dalam kamar. Aku benci tidur siang, aku lebih suka bermain bersama teman-teman, mengenakan kaos dalam oblong dan celana pendek hello kitty ku dengan badan penuh dengan tattoo mainan. Bisa dibilang aku cukup nakal dan kotor ketika kecil dulu, ingus dimana-mana, luka disana sini, dan bisul di kaki dan kepalaku. Seperti anak yang tak terurus saja. Bapak tidak tahu apa yang aku rasakan saat beliau memarahiku karena aku telat sholat duhur, saat aku sibuk dengan permainan layang layang bersama teman-teman laki laki di lingkunganku, dan saat aku tidak tahu malu dan sopan santun sebagai putri perempuannya. Aku sebagai anak Madura, tidak pernah berbahasa halus pada orang yang lebih tua saat itu, yang ada aku malah berbicara sembarangan dan bahasa kasaar kepada mereka. Akibatnya, bapak murka dan sering mencambukku dengan pecut lidi dari daun lontar buatannya. Lama kelamaan aku kebal dengan kepangan lidi buatannya itu. Sebagai putri satu-satunya, aku tidak pernah membanggakan bapak. Dia hanya bisa memarahiku tapi jarang mengajariku matematika atau pelajaran lainnya. Sekali belajar dengan bapak, yang ada aku malah menangis lantaran beliau sering memarahiku. Buktinya, aku tidak pernah mendapat ranking 10 besar di kelas, nilai exactku selalu saja terpampang angka 5 merah di raport. Dan lagi-lagi, bapak akan memarahiku. Oleh karena itu, aku sering menyembunyikan raport dan menandatangani raport itu sendiri meskipun pada ahirnya beliau sering mengetahuinya. Hal yang paling aku suka adalah menuliskan semua hayalanku di buku-buku bahsaku. Aku suka pelajaran itu, aku bisa menulis tentang cerita putri teratai, atau berkhayal menjadi seorang putri bak serial drama “Putri Huan Zhu” yang pernah populer dulu. “Ketika aku menjadi sosok putri itu, aku akan kesekolah dengan pengawalku sambil melambai lambaikan tanganku” begitu pikirku saat itu. Tidak hanya sekedar menuliskan imaginasiku tapi juga aku suka menggambar sosok sosok putri hayalanku, dengan baju bermanik manik indahnya serta mahkota dan pangeran tampan di sampinya. Semua itu adalah duniaku, tidak ada seorangpun yang boleh menggangguku ketika aku mulai bergelut dengan lembar demi lembar kertas yang menurut orang lain tidaklah penting. Hingga suatu hari, saat ibu guru menyuruh kami mengumpulkan dongeng anak-anak dari majalah majalah anak kecil seperti mentari, bobo, dan sebagainya. Aku memilih untuk mengarang ceritaku sendiri. Jangankan majalah, Koran bekaspun aku masih harus menuggu orang lain untuk memberikannya padaku. Yahh, karna orang tuaku tidak pernah membelikanku majalah-majalah maupun dongeng, mereka kurang peduli pada kegemaranku yang menurutnya tidak penting, aku tidak punya satupun kecuali aku memijamnya dari teman maupun perpustakaan sekolah. Setiap aku membaca baris demi baris kisah thumbellina, gadis berkerudung merah, Cinderella, dan mendengar kisah pangeran eric dari temanku, aku merasa semua itu nyata dan aku sebagai pemeran utamanya. Aku sering merengek pada ibu dan bapak untuk membelikanku cerita cerita itu namun lagi lagi aku hanya mampu membacanya saat ada anak orang kaya yang kebetulan membuang majalah majalah lamanya. Maka mbah atau ibuk pasti memintanya untukku. Aku jaga baik baik semua buku cerita itu, jangankan merobek, melipatnya saja aku tidak rela. Seminggu lebih aku mencari majalah bekas untuk menulis tugas cerita pendek itu dan ahirnya aku belum juga mendapatkan buku cerita yang bagus. Terpaksa aku mengarang sebuah cerita pendek, “toh,, aku lebih suka mengarang sendiri cerita cerita itu daripada aku harus mencontohnya dari buku” pikirku saat itu. Namun, ketika di kelas, bu guru mencibir dan mencemoohku di depan teman teman lantaran aku tidak mengerjakan sesuai intruksinya. “aku tidak punya majalah anak-anak bu” jawabku lugu. Bu guru hanya tersenyum mengejek sambil membaca hasil karanganku. Ku ambil buku tulis yang bersampul teletubbies tanpa nilai tanpa paraf tentunya. Yahhh aku pasrah, ku akui mungkin karanganku jelek sekali. Aku hanya diam dan sejak saat itu aku tidak berani menulis lagi. Aku takut mereka menertawakan mimpi mimpiku lagi.


Ketika Siang tak Lagi Terang

Posted by : nur lailatul ana
Date :Senin, 08 Juni 2015
With 0komentar

di depanku, ada KAMU (Tulisan Lama di bulan APRIL)

|
Baca selengkapnya »


Terus berjalan dan menatap ke depan. Tetap saja menatap kedepan tanpa harus menoleh kekanan, kekiri maupun belakang. Jangan hiraukan perasaan perasaan aneh yang sering muncul meskipun pada kenyataannya kesedihan tak bisa lagi di bendung. Biarkan orang lain melihat, biarkan ia juga melihat saat kamu terdiam. Biarkan senyum tetap terlukis di wajahmu yang datar dan biarkan ekspresi datar itu sekali-kali menjadi cirri khasmu saat duniamu tak lagi bersahabat. Mungkin kamu tak perlu merespon dunia yang tak lagi indah dan beralih melihat keindahan dunia dari belahan lain. Hijrahhh,, tidak perlu tempat yang jauh dan sepi, terhalang ruang dan waktu untuk bertemu dengan orang-orang yang masih mngasihi kita seperti orang tua, teman-teman bahkan tuhan. Hijrahhh, sejatinya mengubah keadaan hati bukan hanya mengubah keadaan setting belaka. Ketenangan yang kita cari dan butuhkan bukan hanya kesenangan sementara di depan mata. Bolehlah kamu termenung namun jangan biarkan yang lain tahu tentang apa yang kamu pikirkan. Untuk apa??? Percuma juga mereka tahu namun itu tetap tidak akan ada manfaatnya. Permasalahan apapun yang kamu miliki sekalipun itu permasalahan hati, sembunyikan saja semuanya dengan baik dan rapi di hatimu. Butlah semua itu seakan lelucon saja. Ya,,, lelucon yang bisa saja di tertawakan oleh orang lain ketika mendengarkan dan lelucon untuk dirimu sendiri. Lelucon yang belum bisa kamu pecahkan saat itu. Belum mampu kamu selesaikan dan hanya kamu renungi saja. Yahhh,, ini memang lelucon. Lelucon hidup yang pastinya semua orang pasti akan rasakan. Hanya saja kebanyakan dari mereka berpura-pura tegar. Bukan hanya orang lain bahkan orang yang sedang kamu pikirkanpun hanya menganggap lelucon belaka. Hiburan hati dan pengalaman!. Kadang kamu mengaggapnya terlalu serius, hingga kamupun di tertawakan saat menyadarinya. Cobalah sekali-kali tertawakan keadaanmu. Meskipun pada ahirnya itu menjadi sesuatu yang lucu sekaligus menyakitkan.
Dear,,, kamu. Sedalam itukah perasaanmu padanya???
Sesakit dan seluka itukah hatimu mendengarnya dengan yang lain?
Aku tahu, berkali-kali kau coba alihkan perhatianmu pada yang lain namun kau tetap saja tak bisa merubah hatimu pada satu nama itu. Apa yang kamu bayangkan? Apa yang kamu harapkan? Orang yang telah pergi meninggalkanmu terluka dengan sejuta janjinya, masihkah kau mengharapkannya? Sehebat apa dia? Sebaik apa dia? Sebegitu berhargakah dirinya?
Kamu, ya kamu,,,,, kenapa tak kau alihkan cintamu pada tuhan saja? “sudah,,” kau bilang sudah?
Arghhh,, lagi lagi kamu berbohong. Aku tak percaya. Kamu hanya tersenyum. Ya,, aku tahu. Kamu sudah pasrah. Sudah memasrahkan semuanya pada tuhan, benar-benar pasrah dan berserah diri. Kadang aku iri padamu. Kamu bisa saja berbangga hati, tertawa seakan tak ada masalah dan lagi-lagi kamu bersembunyi dari hatimu sendiri. Kamu pembohong yang lihai dan professional. Kamu tutupi tangismu tidak hanya dengan kedua tanganmu tapi juga dengan pikiranmu. Kau memainkan drama yang benar-benar memintamu untuk jadi pemeran utama. Ahirnya semua orang percaya padamu, percaya bahwa kamu tegar dan tak ada beban. Mungkin karna mereka tak pernah melihatmu menangis di pojokan atau tak pernah mendengar kisahmu yang sebenarnya. Berbeda denganku,, kau bilang, aku paham keadaanmu, aku tau pemikiranmu, aku tau hatimu karna hanya aku yang mampu mendengarkanmu dan memahamimu. Apakah aku special bagimu? Bila saja aku special bagimu maka jadikanlah aku special juga di hadapan tuhanmu. Jangan hanya mngenalkanku padanya tapi ajaklah aku untuk sering berkunjung padaNya. Katakan, aku ingin sering-sering merindukannya seperti kamu merindukan Ia pula.
Kamu terbahak-bahak mendengar permintaanku. Kau bilang aku teman?? Kenapa tak kau kabulkan saja. Aku teman yang sering melihat jemari-jemari tanganmu yang kaku dan kasar, kau terlalu sering mengacuhkan aku dan memilih berteman dengan benda mati. Pena, buku, pensil, gadget, dan hp bututmu. Kamu menjadikan aku special tapi kau menjadikan mereka super istimewa. Lagi lagi aku cemburu teman,, males lihat kamu dengan mereka, tapi di sisi lain aku senang melihatmu bisa tertawa karena mereka adalah duniamu. Apa kau akan terus begitu? Menurutku, kamu seharusnya meninggalkan kebiasaan burukmu berbicara dengan benda benda itu. Mulailah membuka hati dan matamu. Aku bukan asal bicara hanya saja aku mengajarimu untuk percaya pada realita yang ada. Jangan hanya menatap dan tersenyum padaku. Aku tahu, kau diam dan tetap tak ingin berkomentar. Bermain-main dengan pikiranmu sendiri dan bayanganmu. Lagi-lagi aku harus memahami itu. Ingatlah, seorang pemabuk takkan berhenti minum sebelum ia merasakan sakitnya akibat terlalu banyak meminum alcohol. Begitupun kamu, kamu sudah merasakan sakitnya lalu kamu berhenti begitu saja tanpa memperbaikinya. Ambillah resiko untuk hidupmu bung…..!.
Ciahhhhh,,, aku sok bijak dalam kasusmu, tapi tidak dalam kasusku. Sambil membaca Qulhu Allah hu ahad, Allahusshomad lam yalid wa lam yulad wa lam yakullahu kufuan ahad Aku pun berlalu dari hadapanmu.. hihihihi…


di depanku, ada KAMU (Tulisan Lama di bulan APRIL)

Posted by : nur lailatul ana
Date :
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲