ketika
siang tak lagi terang, ketika malam semakin larut. Aku terngiang kata-kata ibuk
dan bapak. sekedar pesan yang sering aku abaikan saat menjadi buah hati
kecilnya. Aku seorang anak TK yang polos waktu itu, sering membangkang dan iri
pada sesama teman. Bagaimana aku tidak merasa iri? Ketika ayah dan ibu mereka
mengantar dan menjemput ke sekolah, memandikan sehari tiga kali, menyuapi
sebelum berangkat sekolah, bahkan sering menguncir rambut mereka dengan cantik,
sementara aku harus melakukan semuanya sendiri karena ibuk sibuk dengan
pekerjaannya di seberang pulau Madura. Bapak juga sibuk dengan kewajibannya di
desa terpencil nan jauh, di salah satu sekolah dimana murid-muridnya selalu tak
mengenakan sepatu dan tas plastic sebagai tempat peralatan tulis menulis
seadaanya. Dengan kesibukan mereka setiap hari, bapak bahkan berangkat sebelum
waktu pertama sholat dhuha di laksanakan dan pulang ketika aku hendak berangkat
sekolah madrasah hingga larut malam. Sedangkan ibuk, aku hanya bisa
menjumpainya sebulan sekali dan bila beruntung sebulan dua kali beliau datang
untuk sekedar menengokku yang selalu di titipkan pada mbah, mbuk (mbah putri,
orang tua bapak), maupun secara bergiliran di titipkan pada enam saudara bapak
dan saudara-saudara ibuk bahkan tetangga. Ya,, aku memang anak titipan, setiap
berangkat ke sekolah di kota, tetanggaku yang mengantarkanku, memboncengku
dengan mengayuh sepeda butut, menyuapiku ketika aku mulai menangis dan
merindukan ibu, memandikanku ketika aku mulai berlumuran debu-debu kotor lantaran
marah dan kecewa karna ibu tak datang tepat pada waktu beliau seharusnya pulang
ke rumah. Bagiku, sebaik apapun mereka waktu itu, tetap saja mereka sering
membohongi anak kecil seperti ku, mereka bilang ibu akan segera datang untk
menemuiku, ibu akan membelikanku baju baru, ibu tidak akan pergi lagi dariku
tapi,, arghhh itu semua palsu. Nyatanya ibu sedang sibuk, belum jua datang dan
lebih memilih meninggalkan aku daripada pekerjaanya. Katanya “Ini demi
kehidupan kita. demi masa depan kamu juga”. Dan setiap dia pergi tanpa pamit
padaku, aku hanya bisa menangis dan meraung selayaknya anak kecil saat itu. Ku
akui, aku benci berada sangat jauh dari ibu. Setiap mau makan aku selalu memilih
menyiapkan makananku sendiri, mandi sendiri, sholat sendiri, tanpa bapak
tentunya. Hal yang dilakukan bapak setiap hari hanyalah membangunkan aku setiap
subuh dan menyruhku pergi ke musholla untuk belajar mengaji, selain itu beliau
hanya memberiku uang untuk sekedar jajan di sekolah. Siang hari, saudara
perempuan bapak yang sering aku panggil “lek” akan menyeretku untuk tidur
siang, bila aku tak mau maka dia akan menjewer telingaku dan mengunci semua
pintu rumah agar aku tak bisa keluar kemana-mana. Aku terus saja meraung di
dalam kamar. Aku benci tidur siang, aku lebih suka bermain bersama teman-teman,
mengenakan kaos dalam oblong dan celana pendek hello kitty ku dengan badan
penuh dengan tattoo mainan. Bisa dibilang aku cukup nakal dan kotor ketika
kecil dulu, ingus dimana-mana, luka disana sini, dan bisul di kaki dan kepalaku.
Seperti anak yang tak terurus saja. Bapak tidak tahu apa yang aku rasakan saat
beliau memarahiku karena aku telat sholat duhur, saat aku sibuk dengan
permainan layang layang bersama teman-teman laki laki di lingkunganku, dan saat
aku tidak tahu malu dan sopan santun sebagai putri perempuannya. Aku sebagai
anak Madura, tidak pernah berbahasa halus pada orang yang lebih tua saat itu,
yang ada aku malah berbicara sembarangan dan bahasa kasaar kepada mereka.
Akibatnya, bapak murka dan sering mencambukku dengan pecut lidi dari daun
lontar buatannya. Lama kelamaan aku kebal dengan kepangan lidi buatannya itu.
Sebagai putri satu-satunya, aku tidak pernah membanggakan bapak. Dia hanya bisa
memarahiku tapi jarang mengajariku matematika atau pelajaran lainnya. Sekali
belajar dengan bapak, yang ada aku malah menangis lantaran beliau sering
memarahiku. Buktinya, aku tidak pernah mendapat ranking 10 besar di kelas,
nilai exactku selalu saja terpampang angka 5 merah di raport. Dan lagi-lagi,
bapak akan memarahiku. Oleh karena itu, aku sering menyembunyikan raport dan
menandatangani raport itu sendiri meskipun pada ahirnya beliau sering
mengetahuinya. Hal yang paling aku suka adalah menuliskan semua hayalanku di
buku-buku bahsaku. Aku suka pelajaran itu, aku bisa menulis tentang cerita
putri teratai, atau berkhayal menjadi seorang putri bak serial drama “Putri
Huan Zhu” yang pernah populer dulu. “Ketika aku menjadi sosok putri itu, aku
akan kesekolah dengan pengawalku sambil melambai lambaikan tanganku” begitu
pikirku saat itu. Tidak hanya sekedar menuliskan imaginasiku tapi juga aku suka
menggambar sosok sosok putri hayalanku, dengan baju bermanik manik indahnya
serta mahkota dan pangeran tampan di sampinya. Semua itu adalah duniaku, tidak
ada seorangpun yang boleh menggangguku ketika aku mulai bergelut dengan lembar demi
lembar kertas yang menurut orang lain tidaklah penting. Hingga suatu hari, saat
ibu guru menyuruh kami mengumpulkan dongeng anak-anak dari majalah majalah anak
kecil seperti mentari, bobo, dan sebagainya. Aku memilih untuk mengarang
ceritaku sendiri. Jangankan majalah, Koran bekaspun aku masih harus menuggu
orang lain untuk memberikannya padaku. Yahh, karna orang tuaku tidak pernah
membelikanku majalah-majalah maupun dongeng, mereka kurang peduli pada
kegemaranku yang menurutnya tidak penting, aku tidak punya satupun kecuali aku
memijamnya dari teman maupun perpustakaan sekolah. Setiap aku membaca baris
demi baris kisah thumbellina, gadis berkerudung merah, Cinderella, dan
mendengar kisah pangeran eric dari temanku, aku merasa semua itu nyata dan aku
sebagai pemeran utamanya. Aku sering merengek pada ibu dan bapak untuk
membelikanku cerita cerita itu namun lagi lagi aku hanya mampu membacanya saat
ada anak orang kaya yang kebetulan membuang majalah majalah lamanya. Maka mbah
atau ibuk pasti memintanya untukku. Aku jaga baik baik semua buku cerita itu,
jangankan merobek, melipatnya saja aku tidak rela. Seminggu lebih aku mencari
majalah bekas untuk menulis tugas cerita pendek itu dan ahirnya aku belum juga
mendapatkan buku cerita yang bagus. Terpaksa aku mengarang sebuah cerita
pendek, “toh,, aku lebih suka mengarang sendiri cerita cerita itu daripada aku
harus mencontohnya dari buku” pikirku saat itu. Namun, ketika di kelas, bu guru
mencibir dan mencemoohku di depan teman teman lantaran aku tidak mengerjakan
sesuai intruksinya. “aku tidak punya majalah anak-anak bu” jawabku lugu. Bu
guru hanya tersenyum mengejek sambil membaca hasil karanganku. Ku ambil buku
tulis yang bersampul teletubbies tanpa nilai tanpa paraf tentunya. Yahhh aku
pasrah, ku akui mungkin karanganku jelek sekali. Aku hanya diam dan sejak saat
itu aku tidak berani menulis lagi. Aku takut mereka menertawakan mimpi mimpiku
lagi.
Newest Post
Ketika Siang tak Lagi Terang
Diposting oleh
nur lailatul ana
|
Senin, 08 Juni 2015
Baca selengkapnya »
di depanku, ada KAMU (Tulisan Lama di bulan APRIL)
Diposting oleh
nur lailatul ana
|
Baca selengkapnya »
Terus berjalan dan menatap ke depan. Tetap saja
menatap kedepan tanpa harus menoleh kekanan, kekiri maupun belakang. Jangan
hiraukan perasaan perasaan aneh yang sering muncul meskipun pada kenyataannya
kesedihan tak bisa lagi di bendung. Biarkan orang lain melihat, biarkan ia juga
melihat saat kamu terdiam. Biarkan senyum tetap terlukis di wajahmu yang datar
dan biarkan ekspresi datar itu sekali-kali menjadi cirri khasmu saat duniamu tak
lagi bersahabat. Mungkin kamu tak perlu merespon dunia yang tak lagi indah dan
beralih melihat keindahan dunia dari belahan lain. Hijrahhh,, tidak perlu
tempat yang jauh dan sepi, terhalang ruang dan waktu untuk bertemu dengan
orang-orang yang masih mngasihi kita seperti orang tua, teman-teman bahkan
tuhan. Hijrahhh, sejatinya mengubah keadaan hati bukan hanya mengubah keadaan
setting belaka. Ketenangan yang kita cari dan butuhkan bukan hanya kesenangan
sementara di depan mata. Bolehlah kamu termenung namun jangan biarkan yang lain
tahu tentang apa yang kamu pikirkan. Untuk apa??? Percuma juga mereka tahu
namun itu tetap tidak akan ada manfaatnya. Permasalahan apapun yang kamu miliki
sekalipun itu permasalahan hati, sembunyikan saja semuanya dengan baik dan rapi
di hatimu. Butlah semua itu seakan lelucon saja. Ya,,, lelucon yang bisa saja
di tertawakan oleh orang lain ketika mendengarkan dan lelucon untuk dirimu
sendiri. Lelucon yang belum bisa kamu pecahkan saat itu. Belum mampu kamu
selesaikan dan hanya kamu renungi saja. Yahhh,, ini memang lelucon. Lelucon
hidup yang pastinya semua orang pasti akan rasakan. Hanya saja kebanyakan dari
mereka berpura-pura tegar. Bukan hanya orang lain bahkan orang yang sedang kamu
pikirkanpun hanya menganggap lelucon belaka. Hiburan hati dan pengalaman!. Kadang
kamu mengaggapnya terlalu serius, hingga kamupun di tertawakan saat
menyadarinya. Cobalah sekali-kali tertawakan keadaanmu. Meskipun pada ahirnya
itu menjadi sesuatu yang lucu sekaligus menyakitkan.
Dear,,, kamu. Sedalam itukah perasaanmu
padanya???
Sesakit dan seluka itukah hatimu mendengarnya
dengan yang lain?
Aku tahu, berkali-kali kau coba alihkan
perhatianmu pada yang lain namun kau tetap saja tak bisa merubah hatimu pada
satu nama itu. Apa yang kamu bayangkan? Apa yang kamu harapkan? Orang yang
telah pergi meninggalkanmu terluka dengan sejuta janjinya, masihkah kau
mengharapkannya? Sehebat apa dia? Sebaik apa dia? Sebegitu berhargakah dirinya?
Kamu, ya kamu,,,,, kenapa tak kau alihkan
cintamu pada tuhan saja? “sudah,,” kau bilang sudah?
Arghhh,, lagi lagi kamu berbohong. Aku tak percaya.
Kamu hanya tersenyum. Ya,, aku tahu. Kamu sudah pasrah. Sudah memasrahkan
semuanya pada tuhan, benar-benar pasrah dan berserah diri. Kadang aku iri
padamu. Kamu bisa saja berbangga hati, tertawa seakan tak ada masalah dan
lagi-lagi kamu bersembunyi dari hatimu sendiri. Kamu pembohong yang lihai dan
professional. Kamu tutupi tangismu tidak hanya dengan kedua tanganmu tapi juga
dengan pikiranmu. Kau memainkan drama yang benar-benar memintamu untuk jadi
pemeran utama. Ahirnya semua orang percaya padamu, percaya bahwa kamu tegar dan
tak ada beban. Mungkin karna mereka tak pernah melihatmu menangis di pojokan
atau tak pernah mendengar kisahmu yang sebenarnya. Berbeda denganku,, kau
bilang, aku paham keadaanmu, aku tau pemikiranmu, aku tau hatimu karna hanya
aku yang mampu mendengarkanmu dan memahamimu. Apakah aku special bagimu? Bila
saja aku special bagimu maka jadikanlah aku special juga di hadapan tuhanmu.
Jangan hanya mngenalkanku padanya tapi ajaklah aku untuk sering berkunjung
padaNya. Katakan, aku ingin sering-sering merindukannya seperti kamu merindukan
Ia pula.
Kamu terbahak-bahak mendengar permintaanku. Kau
bilang aku teman?? Kenapa tak kau kabulkan saja. Aku teman yang sering melihat
jemari-jemari tanganmu yang kaku dan kasar, kau terlalu sering mengacuhkan aku
dan memilih berteman dengan benda mati. Pena, buku, pensil, gadget, dan hp
bututmu. Kamu menjadikan aku special tapi kau menjadikan mereka super istimewa.
Lagi lagi aku cemburu teman,, males lihat kamu dengan mereka, tapi di sisi lain
aku senang melihatmu bisa tertawa karena mereka adalah duniamu. Apa kau akan
terus begitu? Menurutku, kamu seharusnya meninggalkan kebiasaan burukmu
berbicara dengan benda benda itu. Mulailah membuka hati dan matamu. Aku bukan
asal bicara hanya saja aku mengajarimu untuk percaya pada realita yang ada.
Jangan hanya menatap dan tersenyum padaku. Aku tahu, kau diam dan tetap tak
ingin berkomentar. Bermain-main dengan pikiranmu sendiri dan bayanganmu.
Lagi-lagi aku harus memahami itu. Ingatlah, seorang pemabuk takkan berhenti
minum sebelum ia merasakan sakitnya akibat terlalu banyak meminum alcohol.
Begitupun kamu, kamu sudah merasakan sakitnya lalu kamu berhenti begitu saja
tanpa memperbaikinya. Ambillah resiko untuk hidupmu bung…..!.
Ciahhhhh,,, aku sok bijak dalam kasusmu, tapi
tidak dalam kasusku. Sambil membaca Qulhu Allah hu ahad, Allahusshomad lam
yalid wa lam yulad wa lam yakullahu kufuan ahad Aku pun berlalu dari
hadapanmu.. hihihihi…



