Newest Post

Kata Mereka, Kataku, dan Kata Tuhan

| Selasa, 20 Januari 2015
Baca selengkapnya »


Banyak hal yang pernah aku dengar dari perkataan orang lain. Dan salah satunya masih berhubungan denganmu.
Mereka selalu bilang bahwa seharusnya aku bersyukur karena aku beruntung sekali bisa mendapatkanmu.
 Aku yang hina ini mendapatkan orang sebaik kamu. Aku yang mungkin jelek dalam fisik dan tingkahlaku bisa mendapatkan kamu yang menurut mereka keren, yang menurut mereka pemberani dan vokal, kamu dikenal dermawan dan suka menolong, kamu dikenal mudah bergaul dan welcome kepada siapapun, kamu di kenal cerdas dan tegas, kamu dikenal ramah dan santun, kamu dikenal lembut dan penyabar, kamu dikenal taat beribadah dan religious, kamu dikenal sederhana dan apa adanya, kamu dikenal introvert dan bisa menyimpan rahasia, kamu dikenal gaul dan luas pengetahuan, kamu di kenal up to date dan canggih, kamu dikenal bertanggung jawab dan gigih, kamu di kenal dewasa dan bijak, kamu dikenal penyayang dan setia, dan kamu dikenal tampan dan menarik. Ya,,, itu kamu.
Mereka selalu membandingkan kita, aku yang jelek dan tidak menarik, aku yang kadang ektrovert dan cerewwet, aku yang suka mengekang dan over protektif, aku yang jalang dan terbuang, aku yang hina dan tersisihkan, aku yang cengeng dan bergantung pada orang lain, aku yang penakut dan manja, aku yang sering menyusahkan orang lain dan pembawa sial, aku yang tidak memiliki kemapuan apa-apa dan banyak omong, aku yang bodoh dan tidak berguna, aku yang sok bergaya dan kuno, aku yang kurang harta dan matre, aku yang banyak menuntut dan tidak dewasa, aku yang pemarah dan sering murka, aku yang gila dan teman setan. Ya, itu aku.
Itu yang aku dengar, aku baca, dan aku lihat dari mereka. Mereka benar, aku “beruntung” mendapatkanmu. Maka,, segera menjauhlah dariku. Dari hidupku dari jiwa dan ragaku. Agar kamu yang tampan tak terhalangi aku yang jelek. Kamu yang baik tak terbebabni aku yang buruk. Kamu yang bersih tak ternodai aku yang kotor. Kamu yang pintar tak tertutupi aku yang bodoh. Kamu yang dewasa tak kan melayani sifat kekanak kanakanku yang penuh amarah. Kamu yang baik dan aku yang jahat.
Oleh Karena itu, aku tak ingin menjadi seonggok benalu untukmu. aku sudah puas dengan semua cemooh itu, darimu dan dari mereka juga. Semua kata-kata itu adalah hadiah terbesar bagiku. Karena, aku bisa berangsur angsur pulih dan memperbaiki diri. Aku harus bangkit dan sadar untuk intropeksi diri. Aku tak pernah mempertanyakan “apakah aku seperti itu? Seperti apa yang mereka katakan?” yang aku pikirkan adalah setidaknya mereka mengkritik serta menilai, dan aku harus menerima semua hujatan itu dan mereparasi diri, sifat dan imanku.
Tidak ada hak untukku untuk mebalas semuanya, jika baginda Rasulullah Saw tetap menyuapi orang buta yang selalu menjelekkannya kenapa aku harus marah ketika semua itu memang salahku. Baginda Rasulullah Saw tidak pernah membalas ketika orang berusaha membunuhnya dengan segala cara, membencinya, meludahinya, melemparnya dengan batu hingga berdarah darah lalu apa hakku pada kalian?. Aku yang hina bahkan tidak lebih baik dan lebih kecil daripada lalat ini.
Kata-kata “BERUNTUNG” itu yang sedang aku renungkan. “apa aku benar-benar seberuntung itu, Tuhan???”. Apa selama bersamanya, dia mampu merubahku yang hina ini menjadi pribadi yang suci? Atau aku yang tak mau mengikuti himbauannya?. Apa dia selalu membacakanku ayat ayat indahmu dan aku tak mendengarkannya?. Apa dia pernah menjadi imamku saat sholat lima waktu sekalipun itu di musholla maupun mesjid? Atau aku yang tidak mau menjadi makmumnya?. Apakah dia benar-benar menciantaiku karenaMu? Atau karna fisikku yang biasa biasa saja ini?.  Apa dia benar-benar menuntunku ke jalan yang kau ridhoi, atau aku yang tak pernah mau saat kau meridhoi kami?. Apa dia benar-benar membahagiakanku dengan tingkah dan sifatnya? Atau aku saja yang terlalu sering menangisiNya?. Apa dia berkorban untukku karena menginginkan restuMu? Atau aku yang memaksanya?. Apa selama ini dia pernah menyayangiku dengan lembut? Atau aku yang terlalu sensitive dengan kata-kata dan ringan tangannya?. Apa dia yang dari dulu memperjuangkan diriku? Atau aku yang mati matian ingin bersamanya?. Apa dia yang membenarkanku ketika aku salah? Atau aku saja yang tak mau memperbaiki kesalahanku?. Apa dia tak pernah mnjahatiku? Atau aku yang menjahati diriku sendiri?. Apa dia selalu menghargaiku? Atau aku saja yang merasa rendah di mata banyak orang?. Apa dia tak pernah membohongi orang lain saat bersamaku? Atau aku yang selalu berpikir bahwa dia pembohong?. Apa dia yang selalu melindungiku? Atau aku yang tidak merasa aman bersamanya?. Apa di yang selalu meluangkan waktu untukku? Atau aku yang selalu merasa kurang waktu?. Apa dia sering memperhatikanku? Atau aku sering merasa kurang perhatian?. Apa dia peduli ketika aku menangis? Atau aku yang selalu memintanya untuk peduli padaku?. Dalam hal ini aku tidak akan mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar karena jelas, menurut kalian pastilah aku yang salah. posisiku tidak pernah benar dan aku akui kepada kalian dan kepada Tuhan bahwa aku yang bersalah oleh karenanya aku hanya mampu mengemis maaf kepada kalian dan kepada sang pencipta.
Namun, yang perlu di garis bawahi ialah presepsi orang lain tidaklah sama. Anda di posisi anda dan dengan sudut pandang anda, dan saya di posisi saya dengan segala yang saya rasakan selama ini. Sesakit apapun cemohan dan hinaan itu, akan saya terima dan biarlah Allah yang menolong saya. Saya hanya bisa tersenyum kepada anda yang faktanya saat ini menjauhi saya dan melupakan semua janji-janji anda. Syukur-syukur kalau anda sudah melupakan saya dan semua janji anda kepada saya karena saya tidak akan pernah menagih janji anda lagi. Saya ikhlaskan janji anda dan biarlah tuhan mengganti janji-janji semu yang indah itu dengan janji tuhan yang nyata dan abadi. Segala hal terindah dari anda akan saya ingat dan yang melukai hati lagi lagi biarlah saya dan tuhan yang menyimpan semuanya dengan rapi. Anda baik dan akan selalu menjadi orang baik seperti penilaian orang lain namun saya tidak ingin bersama anda yang kata mereka baik. Meskipun pada kenyataannya saya belum bisa melupakan anda. Anda cukup bijak dan memiliki alasan untuk meninggalkan saya dan saya juga memiliki alasan untuk tidak mengharapkan anda lagi.
Saya sadar diri, perempuan hina ini tidaklah pantas bersanding dengan anda yang mulia. Saya hanyalah butiran debu hitam, suram atau mungkin kain pel kumal seperti yang pernah anda lontarkan kepada saya. Lepaskanlah saya, lupakanlah saya, Anda orang baik, Anda sangat baik dan Anda terlalu baik kepada saya.
Biarlah Tuhan yang tentukan jalan takdir Kita. jalan takdir orang hina dan orang mulia. Dan biarlah tuhan saja yang mengsihani saya, menuntun saya, merangkul saya, mencintai saya dan saya ingin menjadi seperti kekasihNya.
Kepada Anda,,, Pacar Tiga Tahun Saya..

Kata Mereka, Kataku, dan Kata Tuhan

Posted by : nur lailatul ana
Date :Selasa, 20 Januari 2015
With 1 komentar:

Untuk Setiap tetes Airmatamu, Pak...

| Senin, 19 Januari 2015
Baca selengkapnya »


Hal yang tak pernah berahir di dunia ini adalah Materi.
Semuanya berawal dari materi. Selalu dan selau kurang untuk ini dan itu. Bahkan orang yang sudah kaya pun masih kekurangan.
Jangan Cuma lihat ke bawah, cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua,, (Red; lagu anak-anak)
(basah oleh keringat-keringat orang-orang tak berpangkat yang sibuk mengumpulkan receh untuk sekedar makan)
Untungnya bapak ibukku tidak pernah lama berkeringat, sebab ketika berkeringat sesegera mungkin keringat itu akan mengering lantaran sengatan mentari dan semburan hujan bserta tiupan angin. Jadinya tubuhnya kering kerontang bak pohon tembakau yang melapuk, kulitnya berkerut seperti daun tembakau yang mengering, muncul bercak tul tul seperti motif daun tembakau, namun selalu berusaha tegak seperti helai-helai daun padi saat tertiup angin. Mungkin terlalu sadis ucapanku kepadamu, wahai orang tuaku, tapi perlu kau tau. Aku , Anakmu, tak pernah malu memiliki kalian. Seperti apapun keadaan kalian saat ini. Karena itulah, aku bangga kepada kalian yang tak pernah lelah melawan masa demi anak anak kalian.
Pernah suatu hari, aku merengek kepada bapakku, meminta sesuatu kepada beliau namun beliau tidak memberikannya  mungkin karena factor ekonomi atau barang tersebut kurang berguna buatku. Aku terus saja merengek dan mengurung diri di kamar. Aku juga membatasi rutinitas makan bersama dengan keluargaku. Walhasil, Bapak berkata “Berhentilah bertingkah seperti anak kecil yang merengek meminta balon!!”. Akupun tersadar dan hanya bisa diam, berpikir betapa egoisnya diriku saat itu. Tanpa mempertimbangkan keadaan ekonomi keluargaku, aku malah menuntut ini dan itu. Naudzubillah,,, itu dulu,, bukan sekarang..
Sekarang, aku sering melihat beliau mendongakkan kepala. Sekedar membiarkan penglihatannya menerawang ke atas atap-atap langit rumah. Mungkin jika tak ada atap bisa saja dipandanginya langit dan bintang di malam dan siang hari. Sejenak ku hampiri dan kupijat bahu dan lengannya. “ada apa pak?” sapaku kemudian. Bapak yang sedari tadi di sampingku mulai menundukkan kepala dan mengedipkan matanya.
“aku tak akan meninggalkan harta, karna aku tak memiliki harta duniawi berupa tanah, uang maupun perhiasan kepada kalian” (istilah maduranya “Sangkolan/ Warisan”). Ucapnya sambil menghirup nafas dan menghempaskannya perlahan.
“tenang saja, aku tidak akan seperti anak kecil yang meminta balon lagi” sahutku sambil tersenyum sekadarnya.
Sejak saat itu, aku berusaha tak meminta uang kepada mereka. Sebisa mungkin aku tahan walau perut melilit di tengah perantauan. Aku rela kelaparan, pontang panting kuliyah dan bekerja asal orang tuaku tak lagi kesusahan karena diriku. Waktu berjalan dan masih baik baik saja, hingga suatu hari bapak tau bahwa aku hidup kesusahan di perantauan. Ia mulai menangis meneteskan air mata di pipinya. Melihat beliau menangis sepertinya bukan hal yang langka apalagi menangis karena diriku. Oh,, tuhannn.. apa sesering itu aku membuat mereka kesusahan sehingga sesering itu pula aku melihat kepiluan dari air mata yang mereka teteskan?.
Pernah juga, karena ulahku, karena keterbatasanku sebagai anak yang bodoh, yang manja, yang sering mengabaikan aturan mereka, mereka menangis bersama. Ya, ibu dan bapakku menangis karena diriku. Bapak lontarkan segelintir ucapan yang nyaris tak bisa aku dengar. Dengan suara serak dan lirih, ia ucapkan hal-hal yang bahkan tak pernah aku pikirkan sebelumnya.
“maaf,, aku tidak bisa memenuhi semua kebutuhanmu selama ini. Membelikanmu sepeda motor dan memberimu uang yang banyak.”
Aku tercengang mendengarnya. Kata-kata itu seakan hendak meruntuhkan langit ke bumi ini. Air mataku tak bisa kutahan lagi. Sambil tersedu-sedu aku berkata, “tidak,, tidak,, bukan itu yang aku butuhkan”. aku hanya butuh perhatian dan kasih sayang  mereka sebagai orang tuaku. Itu saja sudah cukup. Uang bisa di cari tapi kalian tak kan mampu aku beli dan tukar dengan apapun.
Tangisan mereka adalah bukti bahwa mereka menyayangiku lebih dari rasa sayangku kepada mereka. Sekarang adalah saat yang tepat untuk membuat senyuman dan tawa di wajah mereka. Aku bahagia melihat mereka bahagia, aku menangis melihat mereka kesusahan. Maafkan sikapku, maafkan keegoisan anakmu ini. Aku tak mau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi tapi aku bisa membuktikan bahwa aku akan membahagiakan kalian selamnya. Terimakasih atas waktu yang selalu kalian luangkan untukku saat kalian harusnya tertidur lelap dari kepenatan di malam dan siang hari. Terimakasih sudah sering mengantar kami bertiga sekolah dan les dengan sepeda motor butut satu-satunya milik kita. tanpa mengeluh kau berkta, “namanya juga ibadah. Jadi supir tidak apa-apa. Itu sudah kewajiban. Jadi kaupun harus mengantarkan dan menjemput adikmu juga kalau aku tidak bisa menjemput mereka. yang ikhlas, niatkan karena ibadah. Allah maha tahu, malaikat juga mencatat.”
“Jangan merasa selalu kurang uang. Bagaimana dengan Imanmu? Ilmumu? Apa kau pernah merasa kurang???”
Aku hanya terdiam. Kusadari semua perkataan mereka benar aturan yang terlihat protektif dan keraspun benar, mungkin pemikiranku saja yang terlalu ikut arus kehidupan zaman anak sekarang.
Sering kali, teman-teman mengajak shopping, beli ini dan itu, jalan-jalan maupun sekedar jajan, entah teman-teman kantor, kuliyah, teman luar rumah maupun kosan. Dan sering kali juga, aku berpikir keras. Menghitung, jika aku pergi dan bersenang-senang sendiri lantas bagaimana dengan kebutuhan untuk mereka? Untuk bapak, ibuk, adek yang masih sekolah dan kuliyah. Tentu, kebutuhan mereka semua adalah prioritas utamaku saat ini. Aku tidak ingin mereka kekurangan dan kesusahan seperti waktu aku sekolah dan kuliyah. Aku benar-benar tidak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan dulu. Cukup sekali dan aku saja. insyAllah aku ikhlas. Jadi maaf, bukannya aku tidak kompak, tapi aku lebih suka makan, berbelanja, dan menikmati semua hasilku bersama keluargaku. Mungkin kalian merasa tidak nyaman dengan pemikiranku yang tidak gaul bahkan kuno tapi aku sedang ingin menikmati moment-moment bahagia bersama mereka yang baru aku rangkai. Silahkan, bilang aku pelit karena aku jarang jajan di luar, itu lebih baik daripada aku makan ini itu, beli ini itu tapi keluargaku tidak bisa merasakan apa yang sedang kunikmati kala itu. Sebisa mungkin, aku harus adil dalam hidupku. tidak hanya bisa membuat mereka menangis tapi juga harus lebih bisa membuat mereka tertawa. Tertawa bahagia karenaku, karena Allah juga tentunya. Aku wajib membehagiakan mereka dan mereka berhak bahagia atas diriku. Aku lebih ikhlas di bilang pelit, tidak bisa jajan ini itu, belanja ini itu tapi aku mampu bersedekah kepada yang berhak menerimanya  terutama orang orang disekitarku. Bukankah, baginda Rasulullah Saw juga sering hidup dalam kemelaratan padahal shohabat dan orang-orang selalu memberi beliau makanan, harta dan materi lainnya tapi beliau gunakan untuk berjihad (kebutuhan perang) dan membagikannya lagi kepada yang lebih berhak. Beliau memilih untuk berpuasa saat tak ada apapun yang bisa dimakan tanpa mengeluh daipada membelanjakkan uangnya untuk keperluannya sendiri. Teringat pula, sebelum beliau wafat, uang sejumlah tujuh dinar beliau tinggalkan untuk di berikan kepada orang miskin, beliau sodakohkan sebelum uang itu dipertanyakan di ahirat nantinya. Beliau berkata, 3 hal yang takkan putus setelah meninngal. Iman, Ilmu yang bermanfaat dan shodaqoh jariyah.
Dari semua yang ku alami, ada banyak hal yang kupelajari. Hidup dengan penuh rasya syukur yang selalu mereka ajarkan pada anaknya rasanya menyenangkan. Cukup nikmati yang ada tanpa tuntutan. Itu saja. Semuanya kembalikan kepada Allah lagi, biar Allah yang memberi balasan atas segala hal yang telah kita lakukan. Banyak orang yang tidak paham akan posisiku, kuakui, aku memang egois tapi tidak untuk keluargaku lagi. Syukur-syukur kalo aku tidak menjadi orang egois lagi dalam hidupku. So, Bantu aku ya guys,,,, :)

Untuk Setiap tetes Airmatamu, Pak...

Posted by : nur lailatul ana
Date :Senin, 19 Januari 2015
With 2komentar

Sajak di Bawah Hujan

| Minggu, 18 Januari 2015
Baca selengkapnya »
Malam ini tiba" hujan rintik rintik datang,
Mendung bergelayut sedari tadi mulai mnitikkan bulir" kristal k tanah" kering dan aspal jalan.
Debu" trotoar nampak semakin lengket dn menggumpal.
Sejenak lekang,,, tak ada suara kcuali rintihan angin d dedaunan dan genteng" perumahan.
Lagi lagi tak ada suara kcuali tetes" air yg terus berdenting di atas material, berpacu dengan suara detak jarum jam di dinding perumahan.
Ada yang aneh,,,
Sekilas ku lihat pergelangan tangan, ku sentuh dan ku bolak balikkan rantai besi yg melingkar.
Jam tangan usang ternyata Mati,,, berhnti berdetak dn berirama dg hujan.
Tapi bukan ini yg aneh,
Lalu apa?
Ku pandangi wajahku d kaca" pinggir jalan.
Mataku basah, memerah, tatapanku terus saja mnerobos titik titik hujan.
Jantungku seakan brhnti berdetak, melemah dan mulai mencair seperti air hujan.
Badanku tak basah karna air hujan, bajuku, tanganku, kakiku kering tapi wajah ini basah kuyup.
Tuhan, hujan ini anugrahmu yg datang scara tiba" untuk mnemaniku.
Mnemani langkah kakiku d tengah lekangnya malam. Mnjauhkanku dr keramaian manusia. Dan mmbuatku berpikir, kau slalu ada untukku di saat apapun.
Terimakasih telah memberiku waktu, setidaknya untuk maluapkan hal" yg tak bsa ku ungkapkan dg lisan dn tulisan.
5 menit gerimismu mampu obati stengah luka ini.
Lalu,,, gerimismu datang lebih lama dan mmpu sembuhkan luka ini.
Subhanallah, Allahuakbar...
Ctatan d bawah gerimis. ‪#‎berteduh‬ ‪#‎ngaob‬ ‪#‎ojhen‬ ‪#‎lapar

Sajak di Bawah Hujan

Posted by : nur lailatul ana
Date :Minggu, 18 Januari 2015
With 0komentar

Si kucing "Tae She" buat ibuk

|
Baca selengkapnya »

Aku benci kucing, sangat benci melihatnya apalagi menyentuhnya karna aku alergi bulu kucing. Begitu juga dg kluarga ku, kami tidak fanatik binatang peliharaan aplg kucing.
Tapi suatu hari ibu mengadopsi seekor kucing kecil, kucing biasa, kucing desa, milik tetangga dn itu mmbuat aku marah lantaran si kucing sllu brada d dekatku, di kasur, d dapur, d depan tv maupun d sofa.
Ahirnya aku mulai protes pada ibu;
"Ngpain pelihara kucing?, kucingnya d kurung aja ya buk tapi pakek kurungan burung terus d gantung deh d atas biar g nakal deket" aku terus"
Ibu ; jgn, kasian, biar ibu yg urus. Kucing itu jd temen ibu kl kalian gak ada di rumah. Rumah sangat sepi tanpa kalian.
Aku : "uhhh,, tp q gmw d deket kucing." keluhku kemudian.
Kmudian ibu mrangkul dan berbicara pada kucing d dekatku.
"Hehh.. Ayo sini jgn nakal. Km mau tidur ya? Sini jgn ganggu mbak ela nya. Tdur sini ya.. (Ibu mngeluarkan selimut kecil dan mmbalut si kucing d pangkuannya)
Aku tercengang mndengar kata" ibuk.
Bagaimana bsa bliau mngajarkn seekor kucing untuk memanggilku dg sebutan "mbak"??
Q acuhkan saja, "mungkin hanya ksenangan sesaat brsama kucing baru" pikirku dlm hati.
Tp ternyata tidak. Ibu merawatnya dg baik. Mmberinya makan 3kali sehari, memandikannya, mmbelikannya susu dan ikan husus kucing.
Hingga suatu hari kucing itu hilang. Ibu terlihat sangat sedih dan mencarinya. Untungnya orang sekampungpun tau kalo itu kucing peliharaan ibu dan mmberi info saat mnemuan kucing itu berada d rumah salah satu penduduk.
Yg mmbuatku trkejut, bukan hnya ibu yg menghwatirkannya. Ternyata adekku ikut"an mencari si kucing. Dalam catatannya q tak sengaja membaca tulisanny "kucingku, km dimana? Cepatlah kembali. Aku sayang kamu. Aku rindu kamu." begitu kira" isi tulisannya.
Dalam ksehariqnpun bapak,adek terlebih ibuk berinteraksi dengan si kucing. Mskpun tak mmliki kmmpuan sprti nabi sulaiman, tp ibu slalu mngajaknya berbicara hinggan si kucing itupun mnjdi kucing yg pnurut pada ibu.
Yg mnyedihkan lgi smalam q liat ibu n adek merhatiin kucing itu. Ternyata si kucing luka luka lantaran adu cakar dg kucing lain. Adik mmbersihkan lukanya, membalutnya denga selimut khusus si kucing dan mnempatkannya d atas kasur depan tivi. Ibu pun tak henti hentinya mmbelai si si kucing yg klihatan sulit bernafas dn terlihat kesakitan.
Akupun ahirnya tahu, ibu butuh teman. Maafkan aku ibu yg tidak bs setiap hari brada d dekatmu. Dan pdamu kucing, q berterimakasih karna sudah menemani ibuku. Maafin aku yg suka jahilin kamu. Suka jewer telingamu, suka iseng potoin kamu pakek blitz pdahal kamu g suka d poto pke cahaya. Suka mindahin kamubk tempat lain kl lg d deketku. Pokonya maaf cry emoticon
Sekarang q jd kasian ngeliat kmu terus"an tdur melemah dri smalem. N q g suka jg kl ibu bingung gara" kmu. Jgn cuma "meong meong" aja, km hrus sgera bangkit.
Puss pusss puss,,,,
Cepet sembuh,
Temenin ibuk n bapak kalo q lg merantau,
Kalo mamang lg kuliyah,
Kalo dani lagi sekolah,
Kalo bapak lagi ngajar.
Mereka pasti sepi tanpa kami anak anaknya.
Kadang yg mreka dengar hanyalah suara kami lewat telepon.
Bertemupun hnya sebulan sekali itupun masih trasa kurang.
Tuhan, titip orang tuaku ya.
Jaga ibu yg slalu masak sendrian d dapur,
Sehatkan bapak jga yg slalu sibuk dg krjaannya.
Doakan anak-anakmu dalam perantauan..

Si kucing "Tae She" buat ibuk

Posted by : nur lailatul ana
Date :
With 0komentar

Istiqomah

| Senin, 12 Januari 2015
Baca selengkapnya »



Istiqomah berarti tetap berpegang teguh dan tidak terombang aming oleh hal lain yang terjadi. Istilahnya tetap mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangannya. Ketika beristiqomah banyak godaan datang, jika kita tergiur pada godaan itu berarti kita telah menuruti tipu daya syaitan namun ketika kita tetap teguh pada pendirian dan tetap mengikuti perintah dan larangan Allah, itu berarti kita telah menang melawan setan dan tidak terombang ambing oleh ambisi maupun godaan itu sendiri. Contohnya, saat kita bekerja, ada saja cobaan yang datang, diiming imingi dengan uang atau pun ajakan teman dan sebagainya. Jika kita menolak iming iming itu tentulah kita akan mendapat balasan yang lebih banyak dari Allah dan juga pahala yang seimpal namun ketika kita malah menerima iming iming itu kita akan mendapatkan hukuman baik secara hukum dan juga spiritual dari tuhan. Ingat!!! Ketika kita merasa gundah dan tak ada jawaban hendaklah kita serahkan semuanya kepada tuhan. Hal yang kita cukup lakukan adalah menjalani semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya agar kadar keimanan kita tetap terjaga dan sensntiasa terpelihara dari godaan syatan yang terkutuk.

Istiqomah

Posted by : nur lailatul ana
Date :Senin, 12 Januari 2015
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲