Banyak hal yang pernah aku dengar dari
perkataan orang lain. Dan salah satunya masih berhubungan denganmu.
Mereka selalu bilang bahwa seharusnya aku
bersyukur karena aku beruntung sekali bisa mendapatkanmu.
Aku yang
hina ini mendapatkan orang sebaik kamu. Aku yang mungkin jelek dalam fisik dan
tingkahlaku bisa mendapatkan kamu yang menurut mereka keren, yang menurut
mereka pemberani dan vokal, kamu dikenal dermawan dan suka menolong, kamu
dikenal mudah bergaul dan welcome kepada siapapun, kamu di kenal cerdas dan
tegas, kamu dikenal ramah dan santun, kamu dikenal lembut dan penyabar, kamu
dikenal taat beribadah dan religious, kamu dikenal sederhana dan apa adanya,
kamu dikenal introvert dan bisa menyimpan rahasia, kamu dikenal gaul dan luas
pengetahuan, kamu di kenal up to date dan canggih, kamu dikenal bertanggung
jawab dan gigih, kamu di kenal dewasa dan bijak, kamu dikenal penyayang dan
setia, dan kamu dikenal tampan dan menarik. Ya,,, itu kamu.
Mereka selalu membandingkan kita, aku yang
jelek dan tidak menarik, aku yang kadang ektrovert dan cerewwet, aku yang suka
mengekang dan over protektif, aku yang jalang dan terbuang, aku yang hina dan
tersisihkan, aku yang cengeng dan bergantung pada orang lain, aku yang penakut dan
manja, aku yang sering menyusahkan orang lain dan pembawa sial, aku yang tidak
memiliki kemapuan apa-apa dan banyak omong, aku yang bodoh dan tidak berguna,
aku yang sok bergaya dan kuno, aku yang kurang harta dan matre, aku yang banyak
menuntut dan tidak dewasa, aku yang pemarah dan sering murka, aku yang gila dan
teman setan. Ya, itu aku.
Itu yang aku dengar, aku baca, dan aku lihat
dari mereka. Mereka benar, aku “beruntung” mendapatkanmu. Maka,, segera
menjauhlah dariku. Dari hidupku dari jiwa dan ragaku. Agar kamu yang tampan tak
terhalangi aku yang jelek. Kamu yang baik tak terbebabni aku yang buruk. Kamu yang
bersih tak ternodai aku yang kotor. Kamu yang pintar tak tertutupi aku yang
bodoh. Kamu yang dewasa tak kan melayani sifat kekanak kanakanku yang penuh
amarah. Kamu yang baik dan aku yang jahat.
Oleh Karena itu, aku tak ingin menjadi seonggok
benalu untukmu. aku sudah puas dengan semua cemooh itu, darimu dan dari mereka
juga. Semua kata-kata itu adalah hadiah terbesar bagiku. Karena, aku bisa
berangsur angsur pulih dan memperbaiki diri. Aku harus bangkit dan sadar untuk
intropeksi diri. Aku tak pernah mempertanyakan “apakah aku seperti itu? Seperti
apa yang mereka katakan?” yang aku pikirkan adalah setidaknya mereka mengkritik
serta menilai, dan aku harus menerima semua hujatan itu dan mereparasi diri,
sifat dan imanku.
Tidak ada hak untukku untuk mebalas semuanya,
jika baginda Rasulullah Saw tetap menyuapi orang buta yang selalu
menjelekkannya kenapa aku harus marah ketika semua itu memang salahku. Baginda Rasulullah
Saw tidak pernah membalas ketika orang berusaha membunuhnya dengan segala cara,
membencinya, meludahinya, melemparnya dengan batu hingga berdarah darah lalu
apa hakku pada kalian?. Aku yang hina bahkan tidak lebih baik dan lebih kecil
daripada lalat ini.
Kata-kata “BERUNTUNG” itu yang sedang aku
renungkan. “apa aku benar-benar seberuntung itu, Tuhan???”. Apa selama
bersamanya, dia mampu merubahku yang hina ini menjadi pribadi yang suci? Atau aku
yang tak mau mengikuti himbauannya?. Apa dia selalu membacakanku ayat ayat indahmu
dan aku tak mendengarkannya?. Apa dia pernah menjadi imamku saat sholat lima
waktu sekalipun itu di musholla maupun mesjid? Atau aku yang tidak mau menjadi
makmumnya?. Apakah dia benar-benar menciantaiku karenaMu? Atau karna fisikku
yang biasa biasa saja ini?. Apa dia
benar-benar menuntunku ke jalan yang kau ridhoi, atau aku yang tak pernah mau
saat kau meridhoi kami?. Apa dia benar-benar membahagiakanku dengan tingkah dan
sifatnya? Atau aku saja yang terlalu sering menangisiNya?. Apa dia berkorban
untukku karena menginginkan restuMu? Atau aku yang memaksanya?. Apa selama ini
dia pernah menyayangiku dengan lembut? Atau aku yang terlalu sensitive dengan
kata-kata dan ringan tangannya?. Apa dia yang dari dulu memperjuangkan diriku? Atau
aku yang mati matian ingin bersamanya?. Apa dia yang membenarkanku ketika aku
salah? Atau aku saja yang tak mau memperbaiki kesalahanku?. Apa dia tak pernah
mnjahatiku? Atau aku yang menjahati diriku sendiri?. Apa dia selalu
menghargaiku? Atau aku saja yang merasa rendah di mata banyak orang?. Apa dia
tak pernah membohongi orang lain saat bersamaku? Atau aku yang selalu berpikir
bahwa dia pembohong?. Apa dia yang selalu melindungiku? Atau aku yang tidak
merasa aman bersamanya?. Apa di yang selalu meluangkan waktu untukku? Atau aku
yang selalu merasa kurang waktu?. Apa dia sering memperhatikanku? Atau aku
sering merasa kurang perhatian?. Apa dia peduli ketika aku menangis? Atau aku
yang selalu memintanya untuk peduli padaku?. Dalam hal ini aku tidak akan
mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar karena jelas, menurut
kalian pastilah aku yang salah. posisiku tidak pernah benar dan aku akui kepada
kalian dan kepada Tuhan bahwa aku yang bersalah oleh karenanya aku hanya mampu
mengemis maaf kepada kalian dan kepada sang pencipta.
Namun, yang perlu di garis bawahi ialah presepsi
orang lain tidaklah sama. Anda di posisi anda dan dengan sudut pandang anda,
dan saya di posisi saya dengan segala yang saya rasakan selama ini. Sesakit apapun
cemohan dan hinaan itu, akan saya terima dan biarlah Allah yang menolong saya. Saya
hanya bisa tersenyum kepada anda yang faktanya saat ini menjauhi saya dan melupakan
semua janji-janji anda. Syukur-syukur kalau anda sudah melupakan saya dan semua
janji anda kepada saya karena saya tidak akan pernah menagih janji anda lagi. Saya
ikhlaskan janji anda dan biarlah tuhan mengganti janji-janji semu yang indah
itu dengan janji tuhan yang nyata dan abadi. Segala hal terindah dari anda akan
saya ingat dan yang melukai hati lagi lagi biarlah saya dan tuhan yang
menyimpan semuanya dengan rapi. Anda baik dan akan selalu menjadi orang baik
seperti penilaian orang lain namun saya tidak ingin bersama anda yang kata
mereka baik. Meskipun pada kenyataannya saya belum bisa melupakan anda. Anda cukup
bijak dan memiliki alasan untuk meninggalkan saya dan saya juga memiliki alasan
untuk tidak mengharapkan anda lagi.
Saya sadar diri, perempuan hina ini tidaklah
pantas bersanding dengan anda yang mulia. Saya hanyalah butiran debu hitam,
suram atau mungkin kain pel kumal seperti yang pernah anda lontarkan kepada
saya. Lepaskanlah saya, lupakanlah saya, Anda orang baik, Anda sangat baik dan Anda
terlalu baik kepada saya.
Biarlah Tuhan yang tentukan jalan takdir Kita.
jalan takdir orang hina dan orang mulia. Dan biarlah tuhan saja yang mengsihani
saya, menuntun saya, merangkul saya, mencintai saya dan saya ingin menjadi
seperti kekasihNya.
Kepada Anda,,, Pacar Tiga Tahun Saya..







