Terus berjalan dan menatap ke depan. Tetap saja
menatap kedepan tanpa harus menoleh kekanan, kekiri maupun belakang. Jangan
hiraukan perasaan perasaan aneh yang sering muncul meskipun pada kenyataannya
kesedihan tak bisa lagi di bendung. Biarkan orang lain melihat, biarkan ia juga
melihat saat kamu terdiam. Biarkan senyum tetap terlukis di wajahmu yang datar
dan biarkan ekspresi datar itu sekali-kali menjadi cirri khasmu saat duniamu tak
lagi bersahabat. Mungkin kamu tak perlu merespon dunia yang tak lagi indah dan
beralih melihat keindahan dunia dari belahan lain. Hijrahhh,, tidak perlu
tempat yang jauh dan sepi, terhalang ruang dan waktu untuk bertemu dengan
orang-orang yang masih mngasihi kita seperti orang tua, teman-teman bahkan
tuhan. Hijrahhh, sejatinya mengubah keadaan hati bukan hanya mengubah keadaan
setting belaka. Ketenangan yang kita cari dan butuhkan bukan hanya kesenangan
sementara di depan mata. Bolehlah kamu termenung namun jangan biarkan yang lain
tahu tentang apa yang kamu pikirkan. Untuk apa??? Percuma juga mereka tahu
namun itu tetap tidak akan ada manfaatnya. Permasalahan apapun yang kamu miliki
sekalipun itu permasalahan hati, sembunyikan saja semuanya dengan baik dan rapi
di hatimu. Butlah semua itu seakan lelucon saja. Ya,,, lelucon yang bisa saja
di tertawakan oleh orang lain ketika mendengarkan dan lelucon untuk dirimu
sendiri. Lelucon yang belum bisa kamu pecahkan saat itu. Belum mampu kamu
selesaikan dan hanya kamu renungi saja. Yahhh,, ini memang lelucon. Lelucon
hidup yang pastinya semua orang pasti akan rasakan. Hanya saja kebanyakan dari
mereka berpura-pura tegar. Bukan hanya orang lain bahkan orang yang sedang kamu
pikirkanpun hanya menganggap lelucon belaka. Hiburan hati dan pengalaman!. Kadang
kamu mengaggapnya terlalu serius, hingga kamupun di tertawakan saat
menyadarinya. Cobalah sekali-kali tertawakan keadaanmu. Meskipun pada ahirnya
itu menjadi sesuatu yang lucu sekaligus menyakitkan.
Dear,,, kamu. Sedalam itukah perasaanmu
padanya???
Sesakit dan seluka itukah hatimu mendengarnya
dengan yang lain?
Aku tahu, berkali-kali kau coba alihkan
perhatianmu pada yang lain namun kau tetap saja tak bisa merubah hatimu pada
satu nama itu. Apa yang kamu bayangkan? Apa yang kamu harapkan? Orang yang
telah pergi meninggalkanmu terluka dengan sejuta janjinya, masihkah kau
mengharapkannya? Sehebat apa dia? Sebaik apa dia? Sebegitu berhargakah dirinya?
Kamu, ya kamu,,,,, kenapa tak kau alihkan
cintamu pada tuhan saja? “sudah,,” kau bilang sudah?
Arghhh,, lagi lagi kamu berbohong. Aku tak percaya.
Kamu hanya tersenyum. Ya,, aku tahu. Kamu sudah pasrah. Sudah memasrahkan
semuanya pada tuhan, benar-benar pasrah dan berserah diri. Kadang aku iri
padamu. Kamu bisa saja berbangga hati, tertawa seakan tak ada masalah dan
lagi-lagi kamu bersembunyi dari hatimu sendiri. Kamu pembohong yang lihai dan
professional. Kamu tutupi tangismu tidak hanya dengan kedua tanganmu tapi juga
dengan pikiranmu. Kau memainkan drama yang benar-benar memintamu untuk jadi
pemeran utama. Ahirnya semua orang percaya padamu, percaya bahwa kamu tegar dan
tak ada beban. Mungkin karna mereka tak pernah melihatmu menangis di pojokan
atau tak pernah mendengar kisahmu yang sebenarnya. Berbeda denganku,, kau
bilang, aku paham keadaanmu, aku tau pemikiranmu, aku tau hatimu karna hanya
aku yang mampu mendengarkanmu dan memahamimu. Apakah aku special bagimu? Bila
saja aku special bagimu maka jadikanlah aku special juga di hadapan tuhanmu.
Jangan hanya mngenalkanku padanya tapi ajaklah aku untuk sering berkunjung
padaNya. Katakan, aku ingin sering-sering merindukannya seperti kamu merindukan
Ia pula.
Kamu terbahak-bahak mendengar permintaanku. Kau
bilang aku teman?? Kenapa tak kau kabulkan saja. Aku teman yang sering melihat
jemari-jemari tanganmu yang kaku dan kasar, kau terlalu sering mengacuhkan aku
dan memilih berteman dengan benda mati. Pena, buku, pensil, gadget, dan hp
bututmu. Kamu menjadikan aku special tapi kau menjadikan mereka super istimewa.
Lagi lagi aku cemburu teman,, males lihat kamu dengan mereka, tapi di sisi lain
aku senang melihatmu bisa tertawa karena mereka adalah duniamu. Apa kau akan
terus begitu? Menurutku, kamu seharusnya meninggalkan kebiasaan burukmu
berbicara dengan benda benda itu. Mulailah membuka hati dan matamu. Aku bukan
asal bicara hanya saja aku mengajarimu untuk percaya pada realita yang ada.
Jangan hanya menatap dan tersenyum padaku. Aku tahu, kau diam dan tetap tak
ingin berkomentar. Bermain-main dengan pikiranmu sendiri dan bayanganmu.
Lagi-lagi aku harus memahami itu. Ingatlah, seorang pemabuk takkan berhenti
minum sebelum ia merasakan sakitnya akibat terlalu banyak meminum alcohol.
Begitupun kamu, kamu sudah merasakan sakitnya lalu kamu berhenti begitu saja
tanpa memperbaikinya. Ambillah resiko untuk hidupmu bung…..!.
Ciahhhhh,,, aku sok bijak dalam kasusmu, tapi
tidak dalam kasusku. Sambil membaca Qulhu Allah hu ahad, Allahusshomad lam
yalid wa lam yulad wa lam yakullahu kufuan ahad Aku pun berlalu dari
hadapanmu.. hihihihi…



0 komentar:
Posting Komentar