Newest Post

Untukmu yang Tak Sadar Sudah Patahkan Hatiku, Maafkan Keegoisanku yang Ingin Memilikimu Walau Kutahu Tuhan Menciptakanmu Hanya Satu

| Senin, 25 April 2016
Baca selengkapnya »

'Hatiku butuh jeda untuk sembuh.
Hai kamu…
Lelaki agamis yang ku kenal baik yang pada awal perkenalan kita sebagai teman saling membully dan melempar lelucon tak jelas. Ada sensasi berbeda ketika kita terus menghibur satu sama lain. Kamu mulai menggenapi apa yang tidak ada dihatiku dan aku nyaman. Tak perlu waktu lama untuk jatuh hati padamu. Kamu yang pertama membuat setiap ekspektasi tentang tipe pasanganku tak lagi berarti.
Yang penting aku bahagia.
Ada hal yang berbeda membuat percakapan kita tidak lagi sesederhana saling membully. Kita mulai saling menyemangati dan melempar perhatian. Tapi… ini mungkin salahku yang terlalu cepat jatuh hati. Kata orang, baper.

Ah… sungguh wanita mana yang tak akan melambung hatinya jika diberi perhatian, wanita mana yang tak bersemu wajahnya jika dipuji? Mungkin aku yang salah…
Waktu pun tidak begitu senang melihatku bahagia karenamu. Waktu mulai menjawab siapa dirimu. Ya.. Kamu… ternyata  sudah siap mempunyai pendamping hidup. Lalu aku bisa apa? Rapalan do'aku berguguran mulai saat itu. Kenyamananku terusik, karena nyaman seperti apa yang aku jalani sedang setiap hari aku harus menutup luka?
Selalu begitu, ketika fajar mulai tenggelam dalam peraduannya justru pikiranku tentangmu beringsut naik untuk bisa kuingat. Semua sudah terlanjur. Seperti kopi yang terlanjur banyak gula misalnya. Aku pun terlanjur jatuh hati, aku terlambat untuk pergi.
Yang baik dalam dirimu boleh aku ambil? Selebihnya akan ku buang, termasuk kenangan. Maafkan atas ketidaktahuanku.
Maafkan keegoisanku yang ingin memilikimu walau ku tahu Tuhan menciptakanmu hanya satu tidak dua.
Lanjutkanlah harimu seperti dulu. Aku ingin sendiri karena hatiku butuh jeda untuk sembuh.
Indri Rus Haryani

Indri Rus Haryani

Penulis amatir, penyuka sastra, penikmat roti, pecandu kopi dan pecinta kamu.

Jelaga Daun Hitam

| Rabu, 17 Februari 2016
Baca selengkapnya »
sesuatu berbisik pada dedaunan.. berangguk angguk dan melambai.
angin itu.... sedang bercengkrama dengan ranting-ranting lemah gemulai.
aroma asing tercium saat panas menyorot pada sesuatu di pepohonan.
daun itu... terbakar..
serbuk-serbuk terbang, beraroma amunisi ringan.
csssttt.... Gosong, jelaga hitam menempel dimana-mana..
debu itu terbang...
lagi-lagi sang angin membawa segala hal, porak-porandakan debu-debu di lautan.
beriak-riak air di lautan, bercampur debu daun terbakar, berbuih dan hilang, hilang..
Ombak itu.. endapkan Debu dedaunan.
kali ini, ombak yang bernada. wussshhh..... Dam Dum Dam Dum...
berdansa dengan angin di lautan...
biarkan aku Menari... Menari.. dan Menari... ~~
By : Shine *
     


Jelaga Daun Hitam

Posted by : nur lailatul ana
Date :Rabu, 17 Februari 2016
With 0komentar

Taman Hati

| Rabu, 10 Februari 2016
Baca selengkapnya »


Basah… setetes embun selalu membasahi rerumputan di pagi hari hingga aroma rerumputan dan embun itu menyatu di udara.
Seperti dirimu yang selalu membasahi kegersangan di dalam hatiku.
Setandus apapun diriku,, siang dan malam tida henti kau singgahi, sepanas apapun bara mentari itu menerpamu.
Aku….. bukan lautan yang mampu membendung tetes embunmu, aku juga bukan tanaman layu yang harus selalu kau rawat, namun… aku sebuah ladang gersang yang tak berpenghuni. Hingga..  kau rawat ladang itu. Kau penuhi dengan aroma dan beragam warna, dan hidupkan jiwaku.
Saat aku ingin pergi darimu, aku selalu tak bisa urusi rasaku.
Saat kau menghilang dariku, aku selalu merasa lebih gersang dari keadaanku sebelumnya.
Kamu…adalah penghuni hatiku. Yang setiap waktu akan menjaga taman-taman di ladangmu. tak pernah mnyerah untuk merawatnya, meskipun kegagalan dan harapan terus sirnah.
Kamu…pemilik hatiku, curi aku dan anganku setiap waktu.
Saat badai datang, kau topang dengan tiang tiang kokoh.
Saat oleng karna topan, kau tegakkan lagi, lagi dan lagi.
Saat hendak roboh… kau angkat hingga berdiri tegak seperti semula.
Ituu kamu…
Lalu.. jangan biarkan aku pergi. Tahan aku, kuatkan aku, dan yakinkan aku setiap waktu.
Kamu… penghuni baruku. ^^


Taman Hati

Posted by : nur lailatul ana
Date :Rabu, 10 Februari 2016
With 0komentar

Alur Waktu

| Rabu, 09 September 2015
Baca selengkapnya »
Ada rindu yang Menggebu di pelantaran arena malam-malamku,
ada kamu yang selalu menjadi penghantar disetiap pagiku,
kamu... ya kamu..
nama yang bahkan tak bisa ku eja di depan banyak orang,
tak bisa aku tulis di lembar kertas manapun,
yang berawal dari huruf Abjad itu dan berahir dengan awal namaku.
kamu... ya kamu...
kenapa kisah kita tak menjadi satu?
kenapa tak pernah senada dan se alur?
kenapa harus ada perbedaan setting dan waktu?
kamu.. ya kamu...
hatiku masih merindu, bayangmu selalu menghantuiku di kota tua itu.
bayangmu masih saja hadir di anganku,
namunn aku tersadar, aku hanyalah punguk yang merindukan bulan.
lama sekali rasanya kusimpan dan tak bisa ku uraikan pada siapapun. selama itu aku hanya diam termemnung menuggumu hingga... kau tak lagi datang dan penuhi janjimu.
pungukk ini tak lagi mengharapkan bulan yang mulai pudar karna ada mentari yang masih bersinar terang.
kamu,,,, aku tak tahu seperti apa kamu sekarang.
masih samakah? telah berubahkah? atauuu sudah asing bagiku?
jika ku ingat, kamuuuu hanyalah ilusiku, ilusi lamaku, mimpi yang tak berujung dan harapan yang tak pernah menjadi kenyataan.
kamuuuuu... sobatku.

Alur Waktu

Posted by : nur lailatul ana
Date :Rabu, 09 September 2015
With 0komentar

Ketika Siang tak Lagi Terang

| Senin, 08 Juni 2015
Baca selengkapnya »

ketika siang tak lagi terang, ketika malam semakin larut. Aku terngiang kata-kata ibuk dan bapak. sekedar pesan yang sering aku abaikan saat menjadi buah hati kecilnya. Aku seorang anak TK yang polos waktu itu, sering membangkang dan iri pada sesama teman. Bagaimana aku tidak merasa iri? Ketika ayah dan ibu mereka mengantar dan menjemput ke sekolah, memandikan sehari tiga kali, menyuapi sebelum berangkat sekolah, bahkan sering menguncir rambut mereka dengan cantik, sementara aku harus melakukan semuanya sendiri karena ibuk sibuk dengan pekerjaannya di seberang pulau Madura. Bapak juga sibuk dengan kewajibannya di desa terpencil nan jauh, di salah satu sekolah dimana murid-muridnya selalu tak mengenakan sepatu dan tas plastic sebagai tempat peralatan tulis menulis seadaanya. Dengan kesibukan mereka setiap hari, bapak bahkan berangkat sebelum waktu pertama sholat dhuha di laksanakan dan pulang ketika aku hendak berangkat sekolah madrasah hingga larut malam. Sedangkan ibuk, aku hanya bisa menjumpainya sebulan sekali dan bila beruntung sebulan dua kali beliau datang untuk sekedar menengokku yang selalu di titipkan pada mbah, mbuk (mbah putri, orang tua bapak), maupun secara bergiliran di titipkan pada enam saudara bapak dan saudara-saudara ibuk bahkan tetangga. Ya,, aku memang anak titipan, setiap berangkat ke sekolah di kota, tetanggaku yang mengantarkanku, memboncengku dengan mengayuh sepeda butut, menyuapiku ketika aku mulai menangis dan merindukan ibu, memandikanku ketika aku mulai berlumuran debu-debu kotor lantaran marah dan kecewa karna ibu tak datang tepat pada waktu beliau seharusnya pulang ke rumah. Bagiku, sebaik apapun mereka waktu itu, tetap saja mereka sering membohongi anak kecil seperti ku, mereka bilang ibu akan segera datang untk menemuiku, ibu akan membelikanku baju baru, ibu tidak akan pergi lagi dariku tapi,, arghhh itu semua palsu. Nyatanya ibu sedang sibuk, belum jua datang dan lebih memilih meninggalkan aku daripada pekerjaanya. Katanya “Ini demi kehidupan kita. demi masa depan kamu juga”. Dan setiap dia pergi tanpa pamit padaku, aku hanya bisa menangis dan meraung selayaknya anak kecil saat itu. Ku akui, aku benci berada sangat jauh dari ibu. Setiap mau makan aku selalu memilih menyiapkan makananku sendiri, mandi sendiri, sholat sendiri, tanpa bapak tentunya. Hal yang dilakukan bapak setiap hari hanyalah membangunkan aku setiap subuh dan menyruhku pergi ke musholla untuk belajar mengaji, selain itu beliau hanya memberiku uang untuk sekedar jajan di sekolah. Siang hari, saudara perempuan bapak yang sering aku panggil “lek” akan menyeretku untuk tidur siang, bila aku tak mau maka dia akan menjewer telingaku dan mengunci semua pintu rumah agar aku tak bisa keluar kemana-mana. Aku terus saja meraung di dalam kamar. Aku benci tidur siang, aku lebih suka bermain bersama teman-teman, mengenakan kaos dalam oblong dan celana pendek hello kitty ku dengan badan penuh dengan tattoo mainan. Bisa dibilang aku cukup nakal dan kotor ketika kecil dulu, ingus dimana-mana, luka disana sini, dan bisul di kaki dan kepalaku. Seperti anak yang tak terurus saja. Bapak tidak tahu apa yang aku rasakan saat beliau memarahiku karena aku telat sholat duhur, saat aku sibuk dengan permainan layang layang bersama teman-teman laki laki di lingkunganku, dan saat aku tidak tahu malu dan sopan santun sebagai putri perempuannya. Aku sebagai anak Madura, tidak pernah berbahasa halus pada orang yang lebih tua saat itu, yang ada aku malah berbicara sembarangan dan bahasa kasaar kepada mereka. Akibatnya, bapak murka dan sering mencambukku dengan pecut lidi dari daun lontar buatannya. Lama kelamaan aku kebal dengan kepangan lidi buatannya itu. Sebagai putri satu-satunya, aku tidak pernah membanggakan bapak. Dia hanya bisa memarahiku tapi jarang mengajariku matematika atau pelajaran lainnya. Sekali belajar dengan bapak, yang ada aku malah menangis lantaran beliau sering memarahiku. Buktinya, aku tidak pernah mendapat ranking 10 besar di kelas, nilai exactku selalu saja terpampang angka 5 merah di raport. Dan lagi-lagi, bapak akan memarahiku. Oleh karena itu, aku sering menyembunyikan raport dan menandatangani raport itu sendiri meskipun pada ahirnya beliau sering mengetahuinya. Hal yang paling aku suka adalah menuliskan semua hayalanku di buku-buku bahsaku. Aku suka pelajaran itu, aku bisa menulis tentang cerita putri teratai, atau berkhayal menjadi seorang putri bak serial drama “Putri Huan Zhu” yang pernah populer dulu. “Ketika aku menjadi sosok putri itu, aku akan kesekolah dengan pengawalku sambil melambai lambaikan tanganku” begitu pikirku saat itu. Tidak hanya sekedar menuliskan imaginasiku tapi juga aku suka menggambar sosok sosok putri hayalanku, dengan baju bermanik manik indahnya serta mahkota dan pangeran tampan di sampinya. Semua itu adalah duniaku, tidak ada seorangpun yang boleh menggangguku ketika aku mulai bergelut dengan lembar demi lembar kertas yang menurut orang lain tidaklah penting. Hingga suatu hari, saat ibu guru menyuruh kami mengumpulkan dongeng anak-anak dari majalah majalah anak kecil seperti mentari, bobo, dan sebagainya. Aku memilih untuk mengarang ceritaku sendiri. Jangankan majalah, Koran bekaspun aku masih harus menuggu orang lain untuk memberikannya padaku. Yahh, karna orang tuaku tidak pernah membelikanku majalah-majalah maupun dongeng, mereka kurang peduli pada kegemaranku yang menurutnya tidak penting, aku tidak punya satupun kecuali aku memijamnya dari teman maupun perpustakaan sekolah. Setiap aku membaca baris demi baris kisah thumbellina, gadis berkerudung merah, Cinderella, dan mendengar kisah pangeran eric dari temanku, aku merasa semua itu nyata dan aku sebagai pemeran utamanya. Aku sering merengek pada ibu dan bapak untuk membelikanku cerita cerita itu namun lagi lagi aku hanya mampu membacanya saat ada anak orang kaya yang kebetulan membuang majalah majalah lamanya. Maka mbah atau ibuk pasti memintanya untukku. Aku jaga baik baik semua buku cerita itu, jangankan merobek, melipatnya saja aku tidak rela. Seminggu lebih aku mencari majalah bekas untuk menulis tugas cerita pendek itu dan ahirnya aku belum juga mendapatkan buku cerita yang bagus. Terpaksa aku mengarang sebuah cerita pendek, “toh,, aku lebih suka mengarang sendiri cerita cerita itu daripada aku harus mencontohnya dari buku” pikirku saat itu. Namun, ketika di kelas, bu guru mencibir dan mencemoohku di depan teman teman lantaran aku tidak mengerjakan sesuai intruksinya. “aku tidak punya majalah anak-anak bu” jawabku lugu. Bu guru hanya tersenyum mengejek sambil membaca hasil karanganku. Ku ambil buku tulis yang bersampul teletubbies tanpa nilai tanpa paraf tentunya. Yahhh aku pasrah, ku akui mungkin karanganku jelek sekali. Aku hanya diam dan sejak saat itu aku tidak berani menulis lagi. Aku takut mereka menertawakan mimpi mimpiku lagi.


Ketika Siang tak Lagi Terang

Posted by : nur lailatul ana
Date :Senin, 08 Juni 2015
With 0komentar

di depanku, ada KAMU (Tulisan Lama di bulan APRIL)

|
Baca selengkapnya »


Terus berjalan dan menatap ke depan. Tetap saja menatap kedepan tanpa harus menoleh kekanan, kekiri maupun belakang. Jangan hiraukan perasaan perasaan aneh yang sering muncul meskipun pada kenyataannya kesedihan tak bisa lagi di bendung. Biarkan orang lain melihat, biarkan ia juga melihat saat kamu terdiam. Biarkan senyum tetap terlukis di wajahmu yang datar dan biarkan ekspresi datar itu sekali-kali menjadi cirri khasmu saat duniamu tak lagi bersahabat. Mungkin kamu tak perlu merespon dunia yang tak lagi indah dan beralih melihat keindahan dunia dari belahan lain. Hijrahhh,, tidak perlu tempat yang jauh dan sepi, terhalang ruang dan waktu untuk bertemu dengan orang-orang yang masih mngasihi kita seperti orang tua, teman-teman bahkan tuhan. Hijrahhh, sejatinya mengubah keadaan hati bukan hanya mengubah keadaan setting belaka. Ketenangan yang kita cari dan butuhkan bukan hanya kesenangan sementara di depan mata. Bolehlah kamu termenung namun jangan biarkan yang lain tahu tentang apa yang kamu pikirkan. Untuk apa??? Percuma juga mereka tahu namun itu tetap tidak akan ada manfaatnya. Permasalahan apapun yang kamu miliki sekalipun itu permasalahan hati, sembunyikan saja semuanya dengan baik dan rapi di hatimu. Butlah semua itu seakan lelucon saja. Ya,,, lelucon yang bisa saja di tertawakan oleh orang lain ketika mendengarkan dan lelucon untuk dirimu sendiri. Lelucon yang belum bisa kamu pecahkan saat itu. Belum mampu kamu selesaikan dan hanya kamu renungi saja. Yahhh,, ini memang lelucon. Lelucon hidup yang pastinya semua orang pasti akan rasakan. Hanya saja kebanyakan dari mereka berpura-pura tegar. Bukan hanya orang lain bahkan orang yang sedang kamu pikirkanpun hanya menganggap lelucon belaka. Hiburan hati dan pengalaman!. Kadang kamu mengaggapnya terlalu serius, hingga kamupun di tertawakan saat menyadarinya. Cobalah sekali-kali tertawakan keadaanmu. Meskipun pada ahirnya itu menjadi sesuatu yang lucu sekaligus menyakitkan.
Dear,,, kamu. Sedalam itukah perasaanmu padanya???
Sesakit dan seluka itukah hatimu mendengarnya dengan yang lain?
Aku tahu, berkali-kali kau coba alihkan perhatianmu pada yang lain namun kau tetap saja tak bisa merubah hatimu pada satu nama itu. Apa yang kamu bayangkan? Apa yang kamu harapkan? Orang yang telah pergi meninggalkanmu terluka dengan sejuta janjinya, masihkah kau mengharapkannya? Sehebat apa dia? Sebaik apa dia? Sebegitu berhargakah dirinya?
Kamu, ya kamu,,,,, kenapa tak kau alihkan cintamu pada tuhan saja? “sudah,,” kau bilang sudah?
Arghhh,, lagi lagi kamu berbohong. Aku tak percaya. Kamu hanya tersenyum. Ya,, aku tahu. Kamu sudah pasrah. Sudah memasrahkan semuanya pada tuhan, benar-benar pasrah dan berserah diri. Kadang aku iri padamu. Kamu bisa saja berbangga hati, tertawa seakan tak ada masalah dan lagi-lagi kamu bersembunyi dari hatimu sendiri. Kamu pembohong yang lihai dan professional. Kamu tutupi tangismu tidak hanya dengan kedua tanganmu tapi juga dengan pikiranmu. Kau memainkan drama yang benar-benar memintamu untuk jadi pemeran utama. Ahirnya semua orang percaya padamu, percaya bahwa kamu tegar dan tak ada beban. Mungkin karna mereka tak pernah melihatmu menangis di pojokan atau tak pernah mendengar kisahmu yang sebenarnya. Berbeda denganku,, kau bilang, aku paham keadaanmu, aku tau pemikiranmu, aku tau hatimu karna hanya aku yang mampu mendengarkanmu dan memahamimu. Apakah aku special bagimu? Bila saja aku special bagimu maka jadikanlah aku special juga di hadapan tuhanmu. Jangan hanya mngenalkanku padanya tapi ajaklah aku untuk sering berkunjung padaNya. Katakan, aku ingin sering-sering merindukannya seperti kamu merindukan Ia pula.
Kamu terbahak-bahak mendengar permintaanku. Kau bilang aku teman?? Kenapa tak kau kabulkan saja. Aku teman yang sering melihat jemari-jemari tanganmu yang kaku dan kasar, kau terlalu sering mengacuhkan aku dan memilih berteman dengan benda mati. Pena, buku, pensil, gadget, dan hp bututmu. Kamu menjadikan aku special tapi kau menjadikan mereka super istimewa. Lagi lagi aku cemburu teman,, males lihat kamu dengan mereka, tapi di sisi lain aku senang melihatmu bisa tertawa karena mereka adalah duniamu. Apa kau akan terus begitu? Menurutku, kamu seharusnya meninggalkan kebiasaan burukmu berbicara dengan benda benda itu. Mulailah membuka hati dan matamu. Aku bukan asal bicara hanya saja aku mengajarimu untuk percaya pada realita yang ada. Jangan hanya menatap dan tersenyum padaku. Aku tahu, kau diam dan tetap tak ingin berkomentar. Bermain-main dengan pikiranmu sendiri dan bayanganmu. Lagi-lagi aku harus memahami itu. Ingatlah, seorang pemabuk takkan berhenti minum sebelum ia merasakan sakitnya akibat terlalu banyak meminum alcohol. Begitupun kamu, kamu sudah merasakan sakitnya lalu kamu berhenti begitu saja tanpa memperbaikinya. Ambillah resiko untuk hidupmu bung…..!.
Ciahhhhh,,, aku sok bijak dalam kasusmu, tapi tidak dalam kasusku. Sambil membaca Qulhu Allah hu ahad, Allahusshomad lam yalid wa lam yulad wa lam yakullahu kufuan ahad Aku pun berlalu dari hadapanmu.. hihihihi…


di depanku, ada KAMU (Tulisan Lama di bulan APRIL)

Posted by : nur lailatul ana
Date :
With 0komentar

Note in 15 April 2015

| Jumat, 17 April 2015
Baca selengkapnya »


Matahari bersinang terang pagi ini, menerangi semua pelosok perumahan tak terkecuali rumah kos kecil yang ku huni baru beberapa bulan ini. Sinarnya menyadarkanku dari lamunan,,
“hari sudah beranjak siang an, bangkitlah” gumamku dalam hati
Sejenak aku bangkit dari dipan kayu yang merupakan barang berharga satu-satunya di kamar kos berukuran sempit itu. Beranjak menyegerakan wudhu’ dan sholat dhuha. Jarum jam berputar begitu cepat, hingga menunjukkan angka 7.30 pagi.
Kutengok kalender yang tergantung di dinding kamar kos, bulan April, tanggal 15, tahun 2015. Pertengahan bulan yang menurutku biasa biasa saja. Tak ada yang special di hari itu, bukan hari ulang tahunku, bukan pula hari besar atau perayaan dan agenda semacamnya.
Sambil melangkah ke kantor, tak lupa ku lihat layar handphone yang sedari tadi berkelap-kelip tanda adanya notifikasi. Dan muncullah tulisan di pesan pemberitahuan social mediaku;
“Hari ini 1 Tahun Anda, Jangan Kehilangan Kenangan Anda. Bagikan Kenangan Selama Setahun?”
Lagi-lagi aku bertanya, 15 April, tidak ada apa-apa di hari itu…
Kutelusuri rasa penasaranku dengan menjelajahi hal-hal yang terjadi selama setahun yang lalu “April 2014” dan ahhhhh…
Air mataku tak bisa ku bendung lagi, beberapa foto dan update-an status tahun lalu muncul ;

When the train is coming,
the way is stopped,
the drizzle fall down to the earth.
i feel willing,
it is the first time I see the train was so near,
it is the first time i feel quiet in the middle of noisy train,
n I remember you,
remember your word, your smile, sour sad, your anger.
i still wait your promises,
like the previous night,,,
#night_train #night_rain
 
 
Ela Shine GemmaSalsabila
No Cry,,,
just smile, it will better than all..
but its like a war,,,
a battle should I attack,,,,
but I still have you all


Ela Shine GemmaSalsabila
kembalikan ceriaku,
kembalikan tawaku,
kembalikan hari-hariku,
kembalikan..... Q tagih janjimu....


Ela Shine GemmaSalsabila
Q menatap air di bawah langit,,,,,
pantulkan warna biru dan putih,,,
pantasnya ku tak menuggu d tempat itu,
pantasnya ku enyah dan singgah d dedaunan kering yang akan terbakar matahari,
pantasnya aku menanti dalam damaiku.....
accch... siluet yg tak tentu nyata,,


“Klik” ku kunci layar HP,, membiarkan ingatan itu berkelana.
sambil menghempaskan langkah terhuyung, ku usap air yang tiba-tiba berlinang di pipi. Perasaanku benar-benar bercampur aduk. Rasanya baru kemarin aku memanggilnya dengan sapaan mesraku, “Sayang”, baru kemarin kita berbagi canda, tangis dan tawa, dan baru kemarin juga kau menemaniku, mengapa secepat ini waktu berlalu?
Ku hentikan langkahku di depan pintu kantor, melihat kedua belah telapak kaki yang terbungkus sepatu fantoufel, hanya untuk memastikan air mataku tak akan menetes lagi saat kepalaku tertunduk.
“Ya,, Aku Siap,, menjalani hari ini,,,!!” tekadku
Sekali lagi ku ayunkan langkah pasti sambil mendorong ganggang pintu kantor yang bertuliskan huruf-huruf balok “PUSH”,,
“Selamat Pagi..!!” Ucapku penuh semangat
Keseharianku sebagai karyawan swasta yang suka menerima telepon dari nasabah ataupun pihak luar kantor memaksaku untuk tetap tersenyum dan bersemangat. Selama 10 jam, aku harus bertahan seperti itu, tersenyum, tertawa, atau kebingungan karena banyaknya nominal angka yang kulihat setiap hari memaksaku untuk bisa melupakannya. Aku sering panic dan bingung dengan banyaknya rumus dan angka yang harus aku hitung, karena aku seorang alumni sastra inggris, bukan alumni prodi akuntansi, ilmu yang sama sekali tak ada kaitannya dengan profesiku sekarang ini, Accounting sebuah bank swasta yang sering membuatku tak enak makan dan tak enak tidur di awal dan ahir bulan. (Ahh,, Lebay..)
Di tengah pekerjaanku, saat istirahat siang, HP ku lagi-lagi bergetar,
Lagi-lagi sebuah notifikasi dari jejaring social yang sengaja aku abaikan. Notifikasi seperti sebelum-sebelumnya yang hanya akan membuat pikiranku tidak focus dan merantau entah kemana. Kuraih ponsel bermaksud hendak menekan tanda silang di pojok kanan atas tapi itu bukan notifikasi melainkan pemberitahuan panggilan tidak terjawab dan sebuah pesan yang datang dari kedua orantuaku.
“Alhamdulillah na, sudah lancar. Kami sudah mngembalikan cincinmu ke Walinya” begitu isi pesan singkat dari kedua orang tuaku
“Deg,,,” hatiku berdegup kencang…
Kau tau apa yang aku rasakan?? Rasanya aliran darahku terasa begitu cepat, hingga terasa nyilu semua syaraf ini, lidahku kelu, mataku nanar, kerongkonganku kering, nafasku terasa melemah, lagi-lagi pikiranku kembali pada setahun silam.
Setahun lalu, aku hanyalah seorang mahasiswa yang sibuk dengan skripsiku, keseharianku bersama teman seangkatan, sahabat dan juga seseorang yang menurutku sangat special. Begitu special hingga aku terlalu mengutamakan kebahagiaannya dibandingkan kebahagiaanku sendiri. Orang yang bahkan namanya tak bisa aku sebut saat ini, orang yang telah aku anggap hilang dari muka bumi bahkan tak ingin aku kenal lagi. Orang yang,, entah bagaimana aku mendefinisikannya lagi. Ingatan akan amarah, benci, cinta, kenangan indah dan buruk seakan bercampur. Ku tak mampu membendung air mata itu lagi, aku tak peduli dengan riasan wajahku, ku tutup kedua belah bola mata dan menenggelamkan wajahku ke kedua belah lipatan tangan.
“Inikah 15 April itu??? Bagaikan peringatan sebuah kematian. Kematian akan cinta yang di pupuk selama 3 tahun. Kematian akan kepercayaan atas semua janji-janji palsu. Kematian akan kesucian niat yang di pertahankan. Kematian karena sebuah penghianatan. Kematian Karena tak lagi merasa hidup…”
Tiba-tiba ingatanku kembali pada kenangan suram itu. Semuanya ku rekam dalam memory ingatanku dan juga di sebuah HP butut pemberiannya dulu. Sms, Telepon, Hari-hari penting bagi kami di kalender, semuanya ada di memory HP itu juga. Kubuka HP butut berwarna Pink yang cat di keypad dan cashingnya mulai memudar. Ada tulisan kecil sebagai penanda di kalender bulan itu, “DIE, CRY, SMILE”
“Die” kutulis saat bulan 25 Maret 2014, ketika dia menghilang tanpa kabar, meninggalkanku begitu saja.
“Cry” Bulan April 2014, ketika aku berkali-kali menghubunginya namun ia tak lagi merespon
“SMILE” ahir bulan April 2014, sebuah kata kiasan, ketika aku putuskan dengan berat hati, semuanya harus berahir dan telah berahir.
Lalu,,, inikah semua jawaban dari penantianku selama setahun itu? Dia benar-benar menghilang dan harus aku ikhlaskan. Dan kali ini, tepat setahun saat dia pergi, aku menangis lagi. Namun, kali ini tangisku beriringan dengan senyumku.
Ku ucapkan, Alhamdulillah,,, kau telah menajwab segala pertanyaan dan penatiaku Tuhan, segalanya berjalan lancar., aku sudah terbiasa dengan kesendirianku, dengan kemandirianku, dengan segala penantian dan linangan airmata kepadamu. Aku ikhlas, aku bahagia dengan semua keputusanmu, insyAllah, InsyAllah, pasti ada kebaikan dibalik semua ini kan?
Aku percaya Janjimu, Tuhan..

Note in 15 April 2015

Posted by : nur lailatul ana
Date :Jumat, 17 April 2015
With 0komentar
Prev
▲Top▲