Newest Post

Alur Waktu

| Rabu, 09 September 2015
Baca selengkapnya »
Ada rindu yang Menggebu di pelantaran arena malam-malamku,
ada kamu yang selalu menjadi penghantar disetiap pagiku,
kamu... ya kamu..
nama yang bahkan tak bisa ku eja di depan banyak orang,
tak bisa aku tulis di lembar kertas manapun,
yang berawal dari huruf Abjad itu dan berahir dengan awal namaku.
kamu... ya kamu...
kenapa kisah kita tak menjadi satu?
kenapa tak pernah senada dan se alur?
kenapa harus ada perbedaan setting dan waktu?
kamu.. ya kamu...
hatiku masih merindu, bayangmu selalu menghantuiku di kota tua itu.
bayangmu masih saja hadir di anganku,
namunn aku tersadar, aku hanyalah punguk yang merindukan bulan.
lama sekali rasanya kusimpan dan tak bisa ku uraikan pada siapapun. selama itu aku hanya diam termemnung menuggumu hingga... kau tak lagi datang dan penuhi janjimu.
pungukk ini tak lagi mengharapkan bulan yang mulai pudar karna ada mentari yang masih bersinar terang.
kamu,,,, aku tak tahu seperti apa kamu sekarang.
masih samakah? telah berubahkah? atauuu sudah asing bagiku?
jika ku ingat, kamuuuu hanyalah ilusiku, ilusi lamaku, mimpi yang tak berujung dan harapan yang tak pernah menjadi kenyataan.
kamuuuuu... sobatku.

Alur Waktu

Posted by : nur lailatul ana
Date :Rabu, 09 September 2015
With 0komentar

Ketika Siang tak Lagi Terang

| Senin, 08 Juni 2015
Baca selengkapnya »

ketika siang tak lagi terang, ketika malam semakin larut. Aku terngiang kata-kata ibuk dan bapak. sekedar pesan yang sering aku abaikan saat menjadi buah hati kecilnya. Aku seorang anak TK yang polos waktu itu, sering membangkang dan iri pada sesama teman. Bagaimana aku tidak merasa iri? Ketika ayah dan ibu mereka mengantar dan menjemput ke sekolah, memandikan sehari tiga kali, menyuapi sebelum berangkat sekolah, bahkan sering menguncir rambut mereka dengan cantik, sementara aku harus melakukan semuanya sendiri karena ibuk sibuk dengan pekerjaannya di seberang pulau Madura. Bapak juga sibuk dengan kewajibannya di desa terpencil nan jauh, di salah satu sekolah dimana murid-muridnya selalu tak mengenakan sepatu dan tas plastic sebagai tempat peralatan tulis menulis seadaanya. Dengan kesibukan mereka setiap hari, bapak bahkan berangkat sebelum waktu pertama sholat dhuha di laksanakan dan pulang ketika aku hendak berangkat sekolah madrasah hingga larut malam. Sedangkan ibuk, aku hanya bisa menjumpainya sebulan sekali dan bila beruntung sebulan dua kali beliau datang untuk sekedar menengokku yang selalu di titipkan pada mbah, mbuk (mbah putri, orang tua bapak), maupun secara bergiliran di titipkan pada enam saudara bapak dan saudara-saudara ibuk bahkan tetangga. Ya,, aku memang anak titipan, setiap berangkat ke sekolah di kota, tetanggaku yang mengantarkanku, memboncengku dengan mengayuh sepeda butut, menyuapiku ketika aku mulai menangis dan merindukan ibu, memandikanku ketika aku mulai berlumuran debu-debu kotor lantaran marah dan kecewa karna ibu tak datang tepat pada waktu beliau seharusnya pulang ke rumah. Bagiku, sebaik apapun mereka waktu itu, tetap saja mereka sering membohongi anak kecil seperti ku, mereka bilang ibu akan segera datang untk menemuiku, ibu akan membelikanku baju baru, ibu tidak akan pergi lagi dariku tapi,, arghhh itu semua palsu. Nyatanya ibu sedang sibuk, belum jua datang dan lebih memilih meninggalkan aku daripada pekerjaanya. Katanya “Ini demi kehidupan kita. demi masa depan kamu juga”. Dan setiap dia pergi tanpa pamit padaku, aku hanya bisa menangis dan meraung selayaknya anak kecil saat itu. Ku akui, aku benci berada sangat jauh dari ibu. Setiap mau makan aku selalu memilih menyiapkan makananku sendiri, mandi sendiri, sholat sendiri, tanpa bapak tentunya. Hal yang dilakukan bapak setiap hari hanyalah membangunkan aku setiap subuh dan menyruhku pergi ke musholla untuk belajar mengaji, selain itu beliau hanya memberiku uang untuk sekedar jajan di sekolah. Siang hari, saudara perempuan bapak yang sering aku panggil “lek” akan menyeretku untuk tidur siang, bila aku tak mau maka dia akan menjewer telingaku dan mengunci semua pintu rumah agar aku tak bisa keluar kemana-mana. Aku terus saja meraung di dalam kamar. Aku benci tidur siang, aku lebih suka bermain bersama teman-teman, mengenakan kaos dalam oblong dan celana pendek hello kitty ku dengan badan penuh dengan tattoo mainan. Bisa dibilang aku cukup nakal dan kotor ketika kecil dulu, ingus dimana-mana, luka disana sini, dan bisul di kaki dan kepalaku. Seperti anak yang tak terurus saja. Bapak tidak tahu apa yang aku rasakan saat beliau memarahiku karena aku telat sholat duhur, saat aku sibuk dengan permainan layang layang bersama teman-teman laki laki di lingkunganku, dan saat aku tidak tahu malu dan sopan santun sebagai putri perempuannya. Aku sebagai anak Madura, tidak pernah berbahasa halus pada orang yang lebih tua saat itu, yang ada aku malah berbicara sembarangan dan bahasa kasaar kepada mereka. Akibatnya, bapak murka dan sering mencambukku dengan pecut lidi dari daun lontar buatannya. Lama kelamaan aku kebal dengan kepangan lidi buatannya itu. Sebagai putri satu-satunya, aku tidak pernah membanggakan bapak. Dia hanya bisa memarahiku tapi jarang mengajariku matematika atau pelajaran lainnya. Sekali belajar dengan bapak, yang ada aku malah menangis lantaran beliau sering memarahiku. Buktinya, aku tidak pernah mendapat ranking 10 besar di kelas, nilai exactku selalu saja terpampang angka 5 merah di raport. Dan lagi-lagi, bapak akan memarahiku. Oleh karena itu, aku sering menyembunyikan raport dan menandatangani raport itu sendiri meskipun pada ahirnya beliau sering mengetahuinya. Hal yang paling aku suka adalah menuliskan semua hayalanku di buku-buku bahsaku. Aku suka pelajaran itu, aku bisa menulis tentang cerita putri teratai, atau berkhayal menjadi seorang putri bak serial drama “Putri Huan Zhu” yang pernah populer dulu. “Ketika aku menjadi sosok putri itu, aku akan kesekolah dengan pengawalku sambil melambai lambaikan tanganku” begitu pikirku saat itu. Tidak hanya sekedar menuliskan imaginasiku tapi juga aku suka menggambar sosok sosok putri hayalanku, dengan baju bermanik manik indahnya serta mahkota dan pangeran tampan di sampinya. Semua itu adalah duniaku, tidak ada seorangpun yang boleh menggangguku ketika aku mulai bergelut dengan lembar demi lembar kertas yang menurut orang lain tidaklah penting. Hingga suatu hari, saat ibu guru menyuruh kami mengumpulkan dongeng anak-anak dari majalah majalah anak kecil seperti mentari, bobo, dan sebagainya. Aku memilih untuk mengarang ceritaku sendiri. Jangankan majalah, Koran bekaspun aku masih harus menuggu orang lain untuk memberikannya padaku. Yahh, karna orang tuaku tidak pernah membelikanku majalah-majalah maupun dongeng, mereka kurang peduli pada kegemaranku yang menurutnya tidak penting, aku tidak punya satupun kecuali aku memijamnya dari teman maupun perpustakaan sekolah. Setiap aku membaca baris demi baris kisah thumbellina, gadis berkerudung merah, Cinderella, dan mendengar kisah pangeran eric dari temanku, aku merasa semua itu nyata dan aku sebagai pemeran utamanya. Aku sering merengek pada ibu dan bapak untuk membelikanku cerita cerita itu namun lagi lagi aku hanya mampu membacanya saat ada anak orang kaya yang kebetulan membuang majalah majalah lamanya. Maka mbah atau ibuk pasti memintanya untukku. Aku jaga baik baik semua buku cerita itu, jangankan merobek, melipatnya saja aku tidak rela. Seminggu lebih aku mencari majalah bekas untuk menulis tugas cerita pendek itu dan ahirnya aku belum juga mendapatkan buku cerita yang bagus. Terpaksa aku mengarang sebuah cerita pendek, “toh,, aku lebih suka mengarang sendiri cerita cerita itu daripada aku harus mencontohnya dari buku” pikirku saat itu. Namun, ketika di kelas, bu guru mencibir dan mencemoohku di depan teman teman lantaran aku tidak mengerjakan sesuai intruksinya. “aku tidak punya majalah anak-anak bu” jawabku lugu. Bu guru hanya tersenyum mengejek sambil membaca hasil karanganku. Ku ambil buku tulis yang bersampul teletubbies tanpa nilai tanpa paraf tentunya. Yahhh aku pasrah, ku akui mungkin karanganku jelek sekali. Aku hanya diam dan sejak saat itu aku tidak berani menulis lagi. Aku takut mereka menertawakan mimpi mimpiku lagi.


Ketika Siang tak Lagi Terang

Posted by : nur lailatul ana
Date :Senin, 08 Juni 2015
With 0komentar

di depanku, ada KAMU (Tulisan Lama di bulan APRIL)

|
Baca selengkapnya »


Terus berjalan dan menatap ke depan. Tetap saja menatap kedepan tanpa harus menoleh kekanan, kekiri maupun belakang. Jangan hiraukan perasaan perasaan aneh yang sering muncul meskipun pada kenyataannya kesedihan tak bisa lagi di bendung. Biarkan orang lain melihat, biarkan ia juga melihat saat kamu terdiam. Biarkan senyum tetap terlukis di wajahmu yang datar dan biarkan ekspresi datar itu sekali-kali menjadi cirri khasmu saat duniamu tak lagi bersahabat. Mungkin kamu tak perlu merespon dunia yang tak lagi indah dan beralih melihat keindahan dunia dari belahan lain. Hijrahhh,, tidak perlu tempat yang jauh dan sepi, terhalang ruang dan waktu untuk bertemu dengan orang-orang yang masih mngasihi kita seperti orang tua, teman-teman bahkan tuhan. Hijrahhh, sejatinya mengubah keadaan hati bukan hanya mengubah keadaan setting belaka. Ketenangan yang kita cari dan butuhkan bukan hanya kesenangan sementara di depan mata. Bolehlah kamu termenung namun jangan biarkan yang lain tahu tentang apa yang kamu pikirkan. Untuk apa??? Percuma juga mereka tahu namun itu tetap tidak akan ada manfaatnya. Permasalahan apapun yang kamu miliki sekalipun itu permasalahan hati, sembunyikan saja semuanya dengan baik dan rapi di hatimu. Butlah semua itu seakan lelucon saja. Ya,,, lelucon yang bisa saja di tertawakan oleh orang lain ketika mendengarkan dan lelucon untuk dirimu sendiri. Lelucon yang belum bisa kamu pecahkan saat itu. Belum mampu kamu selesaikan dan hanya kamu renungi saja. Yahhh,, ini memang lelucon. Lelucon hidup yang pastinya semua orang pasti akan rasakan. Hanya saja kebanyakan dari mereka berpura-pura tegar. Bukan hanya orang lain bahkan orang yang sedang kamu pikirkanpun hanya menganggap lelucon belaka. Hiburan hati dan pengalaman!. Kadang kamu mengaggapnya terlalu serius, hingga kamupun di tertawakan saat menyadarinya. Cobalah sekali-kali tertawakan keadaanmu. Meskipun pada ahirnya itu menjadi sesuatu yang lucu sekaligus menyakitkan.
Dear,,, kamu. Sedalam itukah perasaanmu padanya???
Sesakit dan seluka itukah hatimu mendengarnya dengan yang lain?
Aku tahu, berkali-kali kau coba alihkan perhatianmu pada yang lain namun kau tetap saja tak bisa merubah hatimu pada satu nama itu. Apa yang kamu bayangkan? Apa yang kamu harapkan? Orang yang telah pergi meninggalkanmu terluka dengan sejuta janjinya, masihkah kau mengharapkannya? Sehebat apa dia? Sebaik apa dia? Sebegitu berhargakah dirinya?
Kamu, ya kamu,,,,, kenapa tak kau alihkan cintamu pada tuhan saja? “sudah,,” kau bilang sudah?
Arghhh,, lagi lagi kamu berbohong. Aku tak percaya. Kamu hanya tersenyum. Ya,, aku tahu. Kamu sudah pasrah. Sudah memasrahkan semuanya pada tuhan, benar-benar pasrah dan berserah diri. Kadang aku iri padamu. Kamu bisa saja berbangga hati, tertawa seakan tak ada masalah dan lagi-lagi kamu bersembunyi dari hatimu sendiri. Kamu pembohong yang lihai dan professional. Kamu tutupi tangismu tidak hanya dengan kedua tanganmu tapi juga dengan pikiranmu. Kau memainkan drama yang benar-benar memintamu untuk jadi pemeran utama. Ahirnya semua orang percaya padamu, percaya bahwa kamu tegar dan tak ada beban. Mungkin karna mereka tak pernah melihatmu menangis di pojokan atau tak pernah mendengar kisahmu yang sebenarnya. Berbeda denganku,, kau bilang, aku paham keadaanmu, aku tau pemikiranmu, aku tau hatimu karna hanya aku yang mampu mendengarkanmu dan memahamimu. Apakah aku special bagimu? Bila saja aku special bagimu maka jadikanlah aku special juga di hadapan tuhanmu. Jangan hanya mngenalkanku padanya tapi ajaklah aku untuk sering berkunjung padaNya. Katakan, aku ingin sering-sering merindukannya seperti kamu merindukan Ia pula.
Kamu terbahak-bahak mendengar permintaanku. Kau bilang aku teman?? Kenapa tak kau kabulkan saja. Aku teman yang sering melihat jemari-jemari tanganmu yang kaku dan kasar, kau terlalu sering mengacuhkan aku dan memilih berteman dengan benda mati. Pena, buku, pensil, gadget, dan hp bututmu. Kamu menjadikan aku special tapi kau menjadikan mereka super istimewa. Lagi lagi aku cemburu teman,, males lihat kamu dengan mereka, tapi di sisi lain aku senang melihatmu bisa tertawa karena mereka adalah duniamu. Apa kau akan terus begitu? Menurutku, kamu seharusnya meninggalkan kebiasaan burukmu berbicara dengan benda benda itu. Mulailah membuka hati dan matamu. Aku bukan asal bicara hanya saja aku mengajarimu untuk percaya pada realita yang ada. Jangan hanya menatap dan tersenyum padaku. Aku tahu, kau diam dan tetap tak ingin berkomentar. Bermain-main dengan pikiranmu sendiri dan bayanganmu. Lagi-lagi aku harus memahami itu. Ingatlah, seorang pemabuk takkan berhenti minum sebelum ia merasakan sakitnya akibat terlalu banyak meminum alcohol. Begitupun kamu, kamu sudah merasakan sakitnya lalu kamu berhenti begitu saja tanpa memperbaikinya. Ambillah resiko untuk hidupmu bung…..!.
Ciahhhhh,,, aku sok bijak dalam kasusmu, tapi tidak dalam kasusku. Sambil membaca Qulhu Allah hu ahad, Allahusshomad lam yalid wa lam yulad wa lam yakullahu kufuan ahad Aku pun berlalu dari hadapanmu.. hihihihi…


di depanku, ada KAMU (Tulisan Lama di bulan APRIL)

Posted by : nur lailatul ana
Date :
With 0komentar

Note in 15 April 2015

| Jumat, 17 April 2015
Baca selengkapnya »


Matahari bersinang terang pagi ini, menerangi semua pelosok perumahan tak terkecuali rumah kos kecil yang ku huni baru beberapa bulan ini. Sinarnya menyadarkanku dari lamunan,,
“hari sudah beranjak siang an, bangkitlah” gumamku dalam hati
Sejenak aku bangkit dari dipan kayu yang merupakan barang berharga satu-satunya di kamar kos berukuran sempit itu. Beranjak menyegerakan wudhu’ dan sholat dhuha. Jarum jam berputar begitu cepat, hingga menunjukkan angka 7.30 pagi.
Kutengok kalender yang tergantung di dinding kamar kos, bulan April, tanggal 15, tahun 2015. Pertengahan bulan yang menurutku biasa biasa saja. Tak ada yang special di hari itu, bukan hari ulang tahunku, bukan pula hari besar atau perayaan dan agenda semacamnya.
Sambil melangkah ke kantor, tak lupa ku lihat layar handphone yang sedari tadi berkelap-kelip tanda adanya notifikasi. Dan muncullah tulisan di pesan pemberitahuan social mediaku;
“Hari ini 1 Tahun Anda, Jangan Kehilangan Kenangan Anda. Bagikan Kenangan Selama Setahun?”
Lagi-lagi aku bertanya, 15 April, tidak ada apa-apa di hari itu…
Kutelusuri rasa penasaranku dengan menjelajahi hal-hal yang terjadi selama setahun yang lalu “April 2014” dan ahhhhh…
Air mataku tak bisa ku bendung lagi, beberapa foto dan update-an status tahun lalu muncul ;

When the train is coming,
the way is stopped,
the drizzle fall down to the earth.
i feel willing,
it is the first time I see the train was so near,
it is the first time i feel quiet in the middle of noisy train,
n I remember you,
remember your word, your smile, sour sad, your anger.
i still wait your promises,
like the previous night,,,
#night_train #night_rain
 
 
Ela Shine GemmaSalsabila
No Cry,,,
just smile, it will better than all..
but its like a war,,,
a battle should I attack,,,,
but I still have you all


Ela Shine GemmaSalsabila
kembalikan ceriaku,
kembalikan tawaku,
kembalikan hari-hariku,
kembalikan..... Q tagih janjimu....


Ela Shine GemmaSalsabila
Q menatap air di bawah langit,,,,,
pantulkan warna biru dan putih,,,
pantasnya ku tak menuggu d tempat itu,
pantasnya ku enyah dan singgah d dedaunan kering yang akan terbakar matahari,
pantasnya aku menanti dalam damaiku.....
accch... siluet yg tak tentu nyata,,


“Klik” ku kunci layar HP,, membiarkan ingatan itu berkelana.
sambil menghempaskan langkah terhuyung, ku usap air yang tiba-tiba berlinang di pipi. Perasaanku benar-benar bercampur aduk. Rasanya baru kemarin aku memanggilnya dengan sapaan mesraku, “Sayang”, baru kemarin kita berbagi canda, tangis dan tawa, dan baru kemarin juga kau menemaniku, mengapa secepat ini waktu berlalu?
Ku hentikan langkahku di depan pintu kantor, melihat kedua belah telapak kaki yang terbungkus sepatu fantoufel, hanya untuk memastikan air mataku tak akan menetes lagi saat kepalaku tertunduk.
“Ya,, Aku Siap,, menjalani hari ini,,,!!” tekadku
Sekali lagi ku ayunkan langkah pasti sambil mendorong ganggang pintu kantor yang bertuliskan huruf-huruf balok “PUSH”,,
“Selamat Pagi..!!” Ucapku penuh semangat
Keseharianku sebagai karyawan swasta yang suka menerima telepon dari nasabah ataupun pihak luar kantor memaksaku untuk tetap tersenyum dan bersemangat. Selama 10 jam, aku harus bertahan seperti itu, tersenyum, tertawa, atau kebingungan karena banyaknya nominal angka yang kulihat setiap hari memaksaku untuk bisa melupakannya. Aku sering panic dan bingung dengan banyaknya rumus dan angka yang harus aku hitung, karena aku seorang alumni sastra inggris, bukan alumni prodi akuntansi, ilmu yang sama sekali tak ada kaitannya dengan profesiku sekarang ini, Accounting sebuah bank swasta yang sering membuatku tak enak makan dan tak enak tidur di awal dan ahir bulan. (Ahh,, Lebay..)
Di tengah pekerjaanku, saat istirahat siang, HP ku lagi-lagi bergetar,
Lagi-lagi sebuah notifikasi dari jejaring social yang sengaja aku abaikan. Notifikasi seperti sebelum-sebelumnya yang hanya akan membuat pikiranku tidak focus dan merantau entah kemana. Kuraih ponsel bermaksud hendak menekan tanda silang di pojok kanan atas tapi itu bukan notifikasi melainkan pemberitahuan panggilan tidak terjawab dan sebuah pesan yang datang dari kedua orantuaku.
“Alhamdulillah na, sudah lancar. Kami sudah mngembalikan cincinmu ke Walinya” begitu isi pesan singkat dari kedua orang tuaku
“Deg,,,” hatiku berdegup kencang…
Kau tau apa yang aku rasakan?? Rasanya aliran darahku terasa begitu cepat, hingga terasa nyilu semua syaraf ini, lidahku kelu, mataku nanar, kerongkonganku kering, nafasku terasa melemah, lagi-lagi pikiranku kembali pada setahun silam.
Setahun lalu, aku hanyalah seorang mahasiswa yang sibuk dengan skripsiku, keseharianku bersama teman seangkatan, sahabat dan juga seseorang yang menurutku sangat special. Begitu special hingga aku terlalu mengutamakan kebahagiaannya dibandingkan kebahagiaanku sendiri. Orang yang bahkan namanya tak bisa aku sebut saat ini, orang yang telah aku anggap hilang dari muka bumi bahkan tak ingin aku kenal lagi. Orang yang,, entah bagaimana aku mendefinisikannya lagi. Ingatan akan amarah, benci, cinta, kenangan indah dan buruk seakan bercampur. Ku tak mampu membendung air mata itu lagi, aku tak peduli dengan riasan wajahku, ku tutup kedua belah bola mata dan menenggelamkan wajahku ke kedua belah lipatan tangan.
“Inikah 15 April itu??? Bagaikan peringatan sebuah kematian. Kematian akan cinta yang di pupuk selama 3 tahun. Kematian akan kepercayaan atas semua janji-janji palsu. Kematian akan kesucian niat yang di pertahankan. Kematian karena sebuah penghianatan. Kematian Karena tak lagi merasa hidup…”
Tiba-tiba ingatanku kembali pada kenangan suram itu. Semuanya ku rekam dalam memory ingatanku dan juga di sebuah HP butut pemberiannya dulu. Sms, Telepon, Hari-hari penting bagi kami di kalender, semuanya ada di memory HP itu juga. Kubuka HP butut berwarna Pink yang cat di keypad dan cashingnya mulai memudar. Ada tulisan kecil sebagai penanda di kalender bulan itu, “DIE, CRY, SMILE”
“Die” kutulis saat bulan 25 Maret 2014, ketika dia menghilang tanpa kabar, meninggalkanku begitu saja.
“Cry” Bulan April 2014, ketika aku berkali-kali menghubunginya namun ia tak lagi merespon
“SMILE” ahir bulan April 2014, sebuah kata kiasan, ketika aku putuskan dengan berat hati, semuanya harus berahir dan telah berahir.
Lalu,,, inikah semua jawaban dari penantianku selama setahun itu? Dia benar-benar menghilang dan harus aku ikhlaskan. Dan kali ini, tepat setahun saat dia pergi, aku menangis lagi. Namun, kali ini tangisku beriringan dengan senyumku.
Ku ucapkan, Alhamdulillah,,, kau telah menajwab segala pertanyaan dan penatiaku Tuhan, segalanya berjalan lancar., aku sudah terbiasa dengan kesendirianku, dengan kemandirianku, dengan segala penantian dan linangan airmata kepadamu. Aku ikhlas, aku bahagia dengan semua keputusanmu, insyAllah, InsyAllah, pasti ada kebaikan dibalik semua ini kan?
Aku percaya Janjimu, Tuhan..

Note in 15 April 2015

Posted by : nur lailatul ana
Date :Jumat, 17 April 2015
With 0komentar

Kata Mereka, Kataku, dan Kata Tuhan

| Selasa, 20 Januari 2015
Baca selengkapnya »


Banyak hal yang pernah aku dengar dari perkataan orang lain. Dan salah satunya masih berhubungan denganmu.
Mereka selalu bilang bahwa seharusnya aku bersyukur karena aku beruntung sekali bisa mendapatkanmu.
 Aku yang hina ini mendapatkan orang sebaik kamu. Aku yang mungkin jelek dalam fisik dan tingkahlaku bisa mendapatkan kamu yang menurut mereka keren, yang menurut mereka pemberani dan vokal, kamu dikenal dermawan dan suka menolong, kamu dikenal mudah bergaul dan welcome kepada siapapun, kamu di kenal cerdas dan tegas, kamu dikenal ramah dan santun, kamu dikenal lembut dan penyabar, kamu dikenal taat beribadah dan religious, kamu dikenal sederhana dan apa adanya, kamu dikenal introvert dan bisa menyimpan rahasia, kamu dikenal gaul dan luas pengetahuan, kamu di kenal up to date dan canggih, kamu dikenal bertanggung jawab dan gigih, kamu di kenal dewasa dan bijak, kamu dikenal penyayang dan setia, dan kamu dikenal tampan dan menarik. Ya,,, itu kamu.
Mereka selalu membandingkan kita, aku yang jelek dan tidak menarik, aku yang kadang ektrovert dan cerewwet, aku yang suka mengekang dan over protektif, aku yang jalang dan terbuang, aku yang hina dan tersisihkan, aku yang cengeng dan bergantung pada orang lain, aku yang penakut dan manja, aku yang sering menyusahkan orang lain dan pembawa sial, aku yang tidak memiliki kemapuan apa-apa dan banyak omong, aku yang bodoh dan tidak berguna, aku yang sok bergaya dan kuno, aku yang kurang harta dan matre, aku yang banyak menuntut dan tidak dewasa, aku yang pemarah dan sering murka, aku yang gila dan teman setan. Ya, itu aku.
Itu yang aku dengar, aku baca, dan aku lihat dari mereka. Mereka benar, aku “beruntung” mendapatkanmu. Maka,, segera menjauhlah dariku. Dari hidupku dari jiwa dan ragaku. Agar kamu yang tampan tak terhalangi aku yang jelek. Kamu yang baik tak terbebabni aku yang buruk. Kamu yang bersih tak ternodai aku yang kotor. Kamu yang pintar tak tertutupi aku yang bodoh. Kamu yang dewasa tak kan melayani sifat kekanak kanakanku yang penuh amarah. Kamu yang baik dan aku yang jahat.
Oleh Karena itu, aku tak ingin menjadi seonggok benalu untukmu. aku sudah puas dengan semua cemooh itu, darimu dan dari mereka juga. Semua kata-kata itu adalah hadiah terbesar bagiku. Karena, aku bisa berangsur angsur pulih dan memperbaiki diri. Aku harus bangkit dan sadar untuk intropeksi diri. Aku tak pernah mempertanyakan “apakah aku seperti itu? Seperti apa yang mereka katakan?” yang aku pikirkan adalah setidaknya mereka mengkritik serta menilai, dan aku harus menerima semua hujatan itu dan mereparasi diri, sifat dan imanku.
Tidak ada hak untukku untuk mebalas semuanya, jika baginda Rasulullah Saw tetap menyuapi orang buta yang selalu menjelekkannya kenapa aku harus marah ketika semua itu memang salahku. Baginda Rasulullah Saw tidak pernah membalas ketika orang berusaha membunuhnya dengan segala cara, membencinya, meludahinya, melemparnya dengan batu hingga berdarah darah lalu apa hakku pada kalian?. Aku yang hina bahkan tidak lebih baik dan lebih kecil daripada lalat ini.
Kata-kata “BERUNTUNG” itu yang sedang aku renungkan. “apa aku benar-benar seberuntung itu, Tuhan???”. Apa selama bersamanya, dia mampu merubahku yang hina ini menjadi pribadi yang suci? Atau aku yang tak mau mengikuti himbauannya?. Apa dia selalu membacakanku ayat ayat indahmu dan aku tak mendengarkannya?. Apa dia pernah menjadi imamku saat sholat lima waktu sekalipun itu di musholla maupun mesjid? Atau aku yang tidak mau menjadi makmumnya?. Apakah dia benar-benar menciantaiku karenaMu? Atau karna fisikku yang biasa biasa saja ini?.  Apa dia benar-benar menuntunku ke jalan yang kau ridhoi, atau aku yang tak pernah mau saat kau meridhoi kami?. Apa dia benar-benar membahagiakanku dengan tingkah dan sifatnya? Atau aku saja yang terlalu sering menangisiNya?. Apa dia berkorban untukku karena menginginkan restuMu? Atau aku yang memaksanya?. Apa selama ini dia pernah menyayangiku dengan lembut? Atau aku yang terlalu sensitive dengan kata-kata dan ringan tangannya?. Apa dia yang dari dulu memperjuangkan diriku? Atau aku yang mati matian ingin bersamanya?. Apa dia yang membenarkanku ketika aku salah? Atau aku saja yang tak mau memperbaiki kesalahanku?. Apa dia tak pernah mnjahatiku? Atau aku yang menjahati diriku sendiri?. Apa dia selalu menghargaiku? Atau aku saja yang merasa rendah di mata banyak orang?. Apa dia tak pernah membohongi orang lain saat bersamaku? Atau aku yang selalu berpikir bahwa dia pembohong?. Apa dia yang selalu melindungiku? Atau aku yang tidak merasa aman bersamanya?. Apa di yang selalu meluangkan waktu untukku? Atau aku yang selalu merasa kurang waktu?. Apa dia sering memperhatikanku? Atau aku sering merasa kurang perhatian?. Apa dia peduli ketika aku menangis? Atau aku yang selalu memintanya untuk peduli padaku?. Dalam hal ini aku tidak akan mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar karena jelas, menurut kalian pastilah aku yang salah. posisiku tidak pernah benar dan aku akui kepada kalian dan kepada Tuhan bahwa aku yang bersalah oleh karenanya aku hanya mampu mengemis maaf kepada kalian dan kepada sang pencipta.
Namun, yang perlu di garis bawahi ialah presepsi orang lain tidaklah sama. Anda di posisi anda dan dengan sudut pandang anda, dan saya di posisi saya dengan segala yang saya rasakan selama ini. Sesakit apapun cemohan dan hinaan itu, akan saya terima dan biarlah Allah yang menolong saya. Saya hanya bisa tersenyum kepada anda yang faktanya saat ini menjauhi saya dan melupakan semua janji-janji anda. Syukur-syukur kalau anda sudah melupakan saya dan semua janji anda kepada saya karena saya tidak akan pernah menagih janji anda lagi. Saya ikhlaskan janji anda dan biarlah tuhan mengganti janji-janji semu yang indah itu dengan janji tuhan yang nyata dan abadi. Segala hal terindah dari anda akan saya ingat dan yang melukai hati lagi lagi biarlah saya dan tuhan yang menyimpan semuanya dengan rapi. Anda baik dan akan selalu menjadi orang baik seperti penilaian orang lain namun saya tidak ingin bersama anda yang kata mereka baik. Meskipun pada kenyataannya saya belum bisa melupakan anda. Anda cukup bijak dan memiliki alasan untuk meninggalkan saya dan saya juga memiliki alasan untuk tidak mengharapkan anda lagi.
Saya sadar diri, perempuan hina ini tidaklah pantas bersanding dengan anda yang mulia. Saya hanyalah butiran debu hitam, suram atau mungkin kain pel kumal seperti yang pernah anda lontarkan kepada saya. Lepaskanlah saya, lupakanlah saya, Anda orang baik, Anda sangat baik dan Anda terlalu baik kepada saya.
Biarlah Tuhan yang tentukan jalan takdir Kita. jalan takdir orang hina dan orang mulia. Dan biarlah tuhan saja yang mengsihani saya, menuntun saya, merangkul saya, mencintai saya dan saya ingin menjadi seperti kekasihNya.
Kepada Anda,,, Pacar Tiga Tahun Saya..

Kata Mereka, Kataku, dan Kata Tuhan

Posted by : nur lailatul ana
Date :Selasa, 20 Januari 2015
With 1 komentar:
Next Prev
▲Top▲