Note in 15 April 2015

| Jumat, 17 April 2015


Matahari bersinang terang pagi ini, menerangi semua pelosok perumahan tak terkecuali rumah kos kecil yang ku huni baru beberapa bulan ini. Sinarnya menyadarkanku dari lamunan,,
“hari sudah beranjak siang an, bangkitlah” gumamku dalam hati
Sejenak aku bangkit dari dipan kayu yang merupakan barang berharga satu-satunya di kamar kos berukuran sempit itu. Beranjak menyegerakan wudhu’ dan sholat dhuha. Jarum jam berputar begitu cepat, hingga menunjukkan angka 7.30 pagi.
Kutengok kalender yang tergantung di dinding kamar kos, bulan April, tanggal 15, tahun 2015. Pertengahan bulan yang menurutku biasa biasa saja. Tak ada yang special di hari itu, bukan hari ulang tahunku, bukan pula hari besar atau perayaan dan agenda semacamnya.
Sambil melangkah ke kantor, tak lupa ku lihat layar handphone yang sedari tadi berkelap-kelip tanda adanya notifikasi. Dan muncullah tulisan di pesan pemberitahuan social mediaku;
“Hari ini 1 Tahun Anda, Jangan Kehilangan Kenangan Anda. Bagikan Kenangan Selama Setahun?”
Lagi-lagi aku bertanya, 15 April, tidak ada apa-apa di hari itu…
Kutelusuri rasa penasaranku dengan menjelajahi hal-hal yang terjadi selama setahun yang lalu “April 2014” dan ahhhhh…
Air mataku tak bisa ku bendung lagi, beberapa foto dan update-an status tahun lalu muncul ;

When the train is coming,
the way is stopped,
the drizzle fall down to the earth.
i feel willing,
it is the first time I see the train was so near,
it is the first time i feel quiet in the middle of noisy train,
n I remember you,
remember your word, your smile, sour sad, your anger.
i still wait your promises,
like the previous night,,,
#night_train #night_rain
 
 
Ela Shine GemmaSalsabila
No Cry,,,
just smile, it will better than all..
but its like a war,,,
a battle should I attack,,,,
but I still have you all


Ela Shine GemmaSalsabila
kembalikan ceriaku,
kembalikan tawaku,
kembalikan hari-hariku,
kembalikan..... Q tagih janjimu....


Ela Shine GemmaSalsabila
Q menatap air di bawah langit,,,,,
pantulkan warna biru dan putih,,,
pantasnya ku tak menuggu d tempat itu,
pantasnya ku enyah dan singgah d dedaunan kering yang akan terbakar matahari,
pantasnya aku menanti dalam damaiku.....
accch... siluet yg tak tentu nyata,,


“Klik” ku kunci layar HP,, membiarkan ingatan itu berkelana.
sambil menghempaskan langkah terhuyung, ku usap air yang tiba-tiba berlinang di pipi. Perasaanku benar-benar bercampur aduk. Rasanya baru kemarin aku memanggilnya dengan sapaan mesraku, “Sayang”, baru kemarin kita berbagi canda, tangis dan tawa, dan baru kemarin juga kau menemaniku, mengapa secepat ini waktu berlalu?
Ku hentikan langkahku di depan pintu kantor, melihat kedua belah telapak kaki yang terbungkus sepatu fantoufel, hanya untuk memastikan air mataku tak akan menetes lagi saat kepalaku tertunduk.
“Ya,, Aku Siap,, menjalani hari ini,,,!!” tekadku
Sekali lagi ku ayunkan langkah pasti sambil mendorong ganggang pintu kantor yang bertuliskan huruf-huruf balok “PUSH”,,
“Selamat Pagi..!!” Ucapku penuh semangat
Keseharianku sebagai karyawan swasta yang suka menerima telepon dari nasabah ataupun pihak luar kantor memaksaku untuk tetap tersenyum dan bersemangat. Selama 10 jam, aku harus bertahan seperti itu, tersenyum, tertawa, atau kebingungan karena banyaknya nominal angka yang kulihat setiap hari memaksaku untuk bisa melupakannya. Aku sering panic dan bingung dengan banyaknya rumus dan angka yang harus aku hitung, karena aku seorang alumni sastra inggris, bukan alumni prodi akuntansi, ilmu yang sama sekali tak ada kaitannya dengan profesiku sekarang ini, Accounting sebuah bank swasta yang sering membuatku tak enak makan dan tak enak tidur di awal dan ahir bulan. (Ahh,, Lebay..)
Di tengah pekerjaanku, saat istirahat siang, HP ku lagi-lagi bergetar,
Lagi-lagi sebuah notifikasi dari jejaring social yang sengaja aku abaikan. Notifikasi seperti sebelum-sebelumnya yang hanya akan membuat pikiranku tidak focus dan merantau entah kemana. Kuraih ponsel bermaksud hendak menekan tanda silang di pojok kanan atas tapi itu bukan notifikasi melainkan pemberitahuan panggilan tidak terjawab dan sebuah pesan yang datang dari kedua orantuaku.
“Alhamdulillah na, sudah lancar. Kami sudah mngembalikan cincinmu ke Walinya” begitu isi pesan singkat dari kedua orang tuaku
“Deg,,,” hatiku berdegup kencang…
Kau tau apa yang aku rasakan?? Rasanya aliran darahku terasa begitu cepat, hingga terasa nyilu semua syaraf ini, lidahku kelu, mataku nanar, kerongkonganku kering, nafasku terasa melemah, lagi-lagi pikiranku kembali pada setahun silam.
Setahun lalu, aku hanyalah seorang mahasiswa yang sibuk dengan skripsiku, keseharianku bersama teman seangkatan, sahabat dan juga seseorang yang menurutku sangat special. Begitu special hingga aku terlalu mengutamakan kebahagiaannya dibandingkan kebahagiaanku sendiri. Orang yang bahkan namanya tak bisa aku sebut saat ini, orang yang telah aku anggap hilang dari muka bumi bahkan tak ingin aku kenal lagi. Orang yang,, entah bagaimana aku mendefinisikannya lagi. Ingatan akan amarah, benci, cinta, kenangan indah dan buruk seakan bercampur. Ku tak mampu membendung air mata itu lagi, aku tak peduli dengan riasan wajahku, ku tutup kedua belah bola mata dan menenggelamkan wajahku ke kedua belah lipatan tangan.
“Inikah 15 April itu??? Bagaikan peringatan sebuah kematian. Kematian akan cinta yang di pupuk selama 3 tahun. Kematian akan kepercayaan atas semua janji-janji palsu. Kematian akan kesucian niat yang di pertahankan. Kematian karena sebuah penghianatan. Kematian Karena tak lagi merasa hidup…”
Tiba-tiba ingatanku kembali pada kenangan suram itu. Semuanya ku rekam dalam memory ingatanku dan juga di sebuah HP butut pemberiannya dulu. Sms, Telepon, Hari-hari penting bagi kami di kalender, semuanya ada di memory HP itu juga. Kubuka HP butut berwarna Pink yang cat di keypad dan cashingnya mulai memudar. Ada tulisan kecil sebagai penanda di kalender bulan itu, “DIE, CRY, SMILE”
“Die” kutulis saat bulan 25 Maret 2014, ketika dia menghilang tanpa kabar, meninggalkanku begitu saja.
“Cry” Bulan April 2014, ketika aku berkali-kali menghubunginya namun ia tak lagi merespon
“SMILE” ahir bulan April 2014, sebuah kata kiasan, ketika aku putuskan dengan berat hati, semuanya harus berahir dan telah berahir.
Lalu,,, inikah semua jawaban dari penantianku selama setahun itu? Dia benar-benar menghilang dan harus aku ikhlaskan. Dan kali ini, tepat setahun saat dia pergi, aku menangis lagi. Namun, kali ini tangisku beriringan dengan senyumku.
Ku ucapkan, Alhamdulillah,,, kau telah menajwab segala pertanyaan dan penatiaku Tuhan, segalanya berjalan lancar., aku sudah terbiasa dengan kesendirianku, dengan kemandirianku, dengan segala penantian dan linangan airmata kepadamu. Aku ikhlas, aku bahagia dengan semua keputusanmu, insyAllah, InsyAllah, pasti ada kebaikan dibalik semua ini kan?
Aku percaya Janjimu, Tuhan..

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲