Hal yang tak pernah berahir di dunia ini adalah
Materi.
Semuanya berawal dari materi. Selalu dan selau
kurang untuk ini dan itu. Bahkan orang yang sudah kaya pun masih kekurangan.
Jangan Cuma lihat ke bawah, cobalah tengok
dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua,, (Red; lagu anak-anak)
(basah oleh keringat-keringat orang-orang tak
berpangkat yang sibuk mengumpulkan receh untuk sekedar makan)
Untungnya bapak ibukku tidak pernah lama
berkeringat, sebab ketika berkeringat sesegera mungkin keringat itu akan mengering
lantaran sengatan mentari dan semburan hujan bserta tiupan angin. Jadinya tubuhnya
kering kerontang bak pohon tembakau yang melapuk, kulitnya berkerut seperti
daun tembakau yang mengering, muncul bercak tul tul seperti motif daun
tembakau, namun selalu berusaha tegak seperti helai-helai daun padi saat
tertiup angin. Mungkin terlalu sadis ucapanku kepadamu, wahai orang tuaku, tapi
perlu kau tau. Aku , Anakmu, tak pernah malu memiliki kalian. Seperti apapun
keadaan kalian saat ini. Karena itulah, aku bangga kepada kalian yang tak
pernah lelah melawan masa demi anak anak kalian.
Pernah suatu hari, aku merengek kepada bapakku,
meminta sesuatu kepada beliau namun beliau tidak memberikannya mungkin karena factor ekonomi atau barang
tersebut kurang berguna buatku. Aku terus saja merengek dan mengurung diri di
kamar. Aku juga membatasi rutinitas makan bersama dengan keluargaku. Walhasil,
Bapak berkata “Berhentilah bertingkah seperti anak kecil yang merengek meminta
balon!!”. Akupun tersadar dan hanya bisa diam, berpikir betapa egoisnya diriku
saat itu. Tanpa mempertimbangkan keadaan ekonomi keluargaku, aku malah menuntut
ini dan itu. Naudzubillah,,, itu dulu,, bukan sekarang..
Sekarang, aku sering melihat beliau
mendongakkan kepala. Sekedar membiarkan penglihatannya menerawang ke atas
atap-atap langit rumah. Mungkin jika tak ada atap bisa saja dipandanginya
langit dan bintang di malam dan siang hari. Sejenak ku hampiri dan kupijat bahu
dan lengannya. “ada apa pak?” sapaku kemudian. Bapak yang sedari tadi di
sampingku mulai menundukkan kepala dan mengedipkan matanya.
“aku tak akan meninggalkan harta, karna aku tak
memiliki harta duniawi berupa tanah, uang maupun perhiasan kepada kalian”
(istilah maduranya “Sangkolan/ Warisan”). Ucapnya sambil menghirup nafas dan
menghempaskannya perlahan.
“tenang saja, aku tidak akan seperti anak kecil
yang meminta balon lagi” sahutku sambil tersenyum sekadarnya.
Sejak saat itu, aku berusaha tak meminta uang
kepada mereka. Sebisa mungkin aku tahan walau perut melilit di tengah
perantauan. Aku rela kelaparan, pontang panting kuliyah dan bekerja asal orang
tuaku tak lagi kesusahan karena diriku. Waktu berjalan dan masih baik baik
saja, hingga suatu hari bapak tau bahwa aku hidup kesusahan di perantauan. Ia
mulai menangis meneteskan air mata di pipinya. Melihat beliau menangis sepertinya
bukan hal yang langka apalagi menangis karena diriku. Oh,, tuhannn.. apa sesering
itu aku membuat mereka kesusahan sehingga sesering itu pula aku melihat
kepiluan dari air mata yang mereka teteskan?.
Pernah juga, karena ulahku, karena keterbatasanku
sebagai anak yang bodoh, yang manja, yang sering mengabaikan aturan mereka,
mereka menangis bersama. Ya, ibu dan bapakku menangis karena diriku. Bapak
lontarkan segelintir ucapan yang nyaris tak bisa aku dengar. Dengan suara serak
dan lirih, ia ucapkan hal-hal yang bahkan tak pernah aku pikirkan sebelumnya.
“maaf,, aku tidak bisa memenuhi semua
kebutuhanmu selama ini. Membelikanmu sepeda motor dan memberimu uang yang
banyak.”
Aku tercengang mendengarnya. Kata-kata itu
seakan hendak meruntuhkan langit ke bumi ini. Air mataku tak bisa kutahan lagi.
Sambil tersedu-sedu aku berkata, “tidak,, tidak,, bukan itu yang aku butuhkan”.
aku hanya butuh perhatian dan kasih sayang
mereka sebagai orang tuaku. Itu saja sudah cukup. Uang bisa di cari tapi
kalian tak kan mampu aku beli dan tukar dengan apapun.
Tangisan mereka adalah bukti bahwa mereka
menyayangiku lebih dari rasa sayangku kepada mereka. Sekarang adalah saat yang
tepat untuk membuat senyuman dan tawa di wajah mereka. Aku bahagia melihat
mereka bahagia, aku menangis melihat mereka kesusahan. Maafkan sikapku, maafkan
keegoisan anakmu ini. Aku tak mau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi tapi
aku bisa membuktikan bahwa aku akan membahagiakan kalian selamnya. Terimakasih
atas waktu yang selalu kalian luangkan untukku saat kalian harusnya tertidur
lelap dari kepenatan di malam dan siang hari. Terimakasih sudah sering
mengantar kami bertiga sekolah dan les dengan sepeda motor butut satu-satunya
milik kita. tanpa mengeluh kau berkta, “namanya juga ibadah. Jadi supir tidak
apa-apa. Itu sudah kewajiban. Jadi kaupun harus mengantarkan dan menjemput
adikmu juga kalau aku tidak bisa menjemput mereka. yang ikhlas, niatkan karena
ibadah. Allah maha tahu, malaikat juga mencatat.”
“Jangan merasa selalu kurang uang. Bagaimana
dengan Imanmu? Ilmumu? Apa kau pernah merasa kurang???”
Aku hanya terdiam. Kusadari semua perkataan
mereka benar aturan yang terlihat protektif dan keraspun benar, mungkin pemikiranku
saja yang terlalu ikut arus kehidupan zaman anak sekarang.
Sering kali, teman-teman mengajak shopping,
beli ini dan itu, jalan-jalan maupun sekedar jajan, entah teman-teman kantor,
kuliyah, teman luar rumah maupun kosan. Dan sering kali juga, aku berpikir
keras. Menghitung, jika aku pergi dan bersenang-senang sendiri lantas bagaimana
dengan kebutuhan untuk mereka? Untuk bapak, ibuk, adek yang masih sekolah dan
kuliyah. Tentu, kebutuhan mereka semua adalah prioritas utamaku saat ini. Aku
tidak ingin mereka kekurangan dan kesusahan seperti waktu aku sekolah dan
kuliyah. Aku benar-benar tidak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan
dulu. Cukup sekali dan aku saja. insyAllah aku ikhlas. Jadi maaf, bukannya aku
tidak kompak, tapi aku lebih suka makan, berbelanja, dan menikmati semua
hasilku bersama keluargaku. Mungkin kalian merasa tidak nyaman dengan
pemikiranku yang tidak gaul bahkan kuno tapi aku sedang ingin menikmati
moment-moment bahagia bersama mereka yang baru aku rangkai. Silahkan, bilang
aku pelit karena aku jarang jajan di luar, itu lebih baik daripada aku makan
ini itu, beli ini itu tapi keluargaku tidak bisa merasakan apa yang sedang
kunikmati kala itu. Sebisa mungkin, aku harus adil dalam hidupku. tidak hanya
bisa membuat mereka menangis tapi juga harus lebih bisa membuat mereka tertawa.
Tertawa bahagia karenaku, karena Allah juga tentunya. Aku wajib membehagiakan
mereka dan mereka berhak bahagia atas diriku. Aku lebih ikhlas di bilang pelit,
tidak bisa jajan ini itu, belanja ini itu tapi aku mampu bersedekah kepada yang
berhak menerimanya terutama orang orang
disekitarku. Bukankah, baginda Rasulullah Saw juga sering hidup dalam
kemelaratan padahal shohabat dan orang-orang selalu memberi beliau makanan,
harta dan materi lainnya tapi beliau gunakan untuk berjihad (kebutuhan perang)
dan membagikannya lagi kepada yang lebih berhak. Beliau memilih untuk berpuasa
saat tak ada apapun yang bisa dimakan tanpa mengeluh daipada membelanjakkan
uangnya untuk keperluannya sendiri. Teringat pula, sebelum beliau wafat, uang
sejumlah tujuh dinar beliau tinggalkan untuk di berikan kepada orang miskin,
beliau sodakohkan sebelum uang itu dipertanyakan di ahirat nantinya. Beliau
berkata, 3 hal yang takkan putus setelah meninngal. Iman, Ilmu yang bermanfaat
dan shodaqoh jariyah.
Dari semua yang ku alami, ada banyak hal yang
kupelajari. Hidup dengan penuh rasya syukur yang selalu mereka ajarkan pada
anaknya rasanya menyenangkan. Cukup nikmati yang ada tanpa tuntutan. Itu saja.
Semuanya kembalikan kepada Allah lagi, biar Allah yang memberi balasan atas
segala hal yang telah kita lakukan. Banyak orang yang tidak paham akan
posisiku, kuakui, aku memang egois tapi tidak untuk keluargaku lagi.
Syukur-syukur kalo aku tidak menjadi orang egois lagi dalam hidupku. So, Bantu
aku ya guys,,,, :)



Perjuangan dan pengorbanan.
BalasHapusYah..Semoga Allah lancarkan segala usaha dan kerja kerasmu.
Jangan pernah patah semangat, saya yakin akan lebih banyak kebahagian kelak, keluarga pasti Bangga punya anak seperti Ela.
Semangat Ela. ;) ;)
semoga saja mereka bangga,,
Hapusterimaksih.. :)