Satu orang cukup untuk segalanya, Banyak orang akan lebih terasa sempurna

| Senin, 12 Januari 2015



Perasaan cinta memamg aneh. Kadang kita merasa tidak membutuhkan orang lain selain dia. Hal ini di sebabkan karna hanya satu orang itulah yang mampu memahami kita bahkan lebih dari orang tua dan keluarga kita yang lain. Sebab kita lebih banyak meluangkan waktu bersama orang yang kita cintai. kita lebih terbuka entang segala hal yang berhubungan dengan pribadi kita di bandingkan dengan orang tua kita. Kita merasa malu ketika orang tua tau akan masalah kita atau mungkin hal-hal yang kita rasakan. Kita sering berpikir mereka terlalu sibuk untuk memikirkan masalah kita, atau orang tua kita terlalu punya banyak masalah pribadi sehingga tidak akan mampu memikirkan masalah kita apalagi mendengarkan masalah kita sebagai anak remaja yang mungkin monoton, atau orang tua kita yang kurang peka terhadap anaknya, kurang harmonis, bahkan broken home bisa sama sekali tidak mmepedulikan pribadi seorang anak. Oleh sebab itu, kita sebagai seorang anak cenderung mencari pelarian dan menciptakan dunianya sendiri. Dimana zona aman, senang, sedih, dan bahagia di ciptakan di luar kebersamaannya bersama orangtua. Anak muda seperti itu lebih focus dan nyaman ketika bersama seseorang yang di cintainya. Status keluarga, hanyalah status formalnya saja, tapi sebenarnya sang anak tidak akan merasa senang ketika berada di tengah keluarga yang kurang memahami dirinya. Apalagi sang anak tumbuh dalam KDRT ataupun kekerasan fisik yang sering ia rasakan dari orang tuanya selama masih kecil. Di jamin, si anak akan cenderung menjadi pribadi yang tertutup kepada orang tuanya dan lebih terbuka kepada orang yang dirasa mampu mendengarkan dan membantunya di luar sana. Jika ada beberapa orang tua yang merasakan perubahan sikap dari anaknya ketika beranjak dewasa nannti, tak sepatutnya orang tua menyalahkan sang anak. Seorang anak yang di didik dalam kekekrasan akan belajar untuk membangkang dan seorang anak yang di didik dengan manja akan sering merengek nantinya. Yang di inginkan anak bukanlah harta benda yang mewah bukan pula cambukan di setiap kesalahan namun kepedulian orang tua dan kepercayaanlah yang mereka butuhkan. Rasanya system bebas namun terbatas perlu di terapkan kepada anak di era modern ini. Dimana kebebasan itu diberikan kepada anak, anak belajar untuk mempertanggung jawabkan setiap perbuatanya. Sebagai orang tua hendaklah keras tapi tidak dalam bentuk fisik, jangan sekali-kali menghina sang anak apalagi dengan sebutan “BODOH”. Seharusnya orang tua lebih bersikap bijaksana dala mendidik anak, jangan terlalu menampakkan percecokan di hadapan sang anak, jangan sering mengeluh masalah keadaan ekonomi, kurangi mengumbar janji ini itu kepada anak, realistis, sopan dan sederhana. Itulah sikap yang akan di contoh nantinya oleh seorang anak. Sebab pada dasarnya orang tua adalah suri tauladan yang akan di conto hingga anaknya tua nanti. Kebanyakan dari mereka akan menerapkan system didikan yang sama kepada keturunannya nanti.
                Terlepas dari semua kasus orang tua dan anak itu. Setelah sang anak memiliki dunianya sendiri bersama teman maupun pacar mereka akan menggeser posisi orang tua di hati mereka. Mereka cendrung berpikir akan mampu melewati segala rintangan hanya dengan sang pacar maupun teman tanpa bantuan orang tuanya. Mereka merasa tidak membutuhkan siapa-siapa lagi sehingga mereka bersikap cuek bebebk kepada orangtuanya. Kenyataannya, mereka tidak bisa apa-apa dan ketika mereka putus, istilahnya “broken heart” mereka merasa stress dan putus semangat. Mereka tidak sadar bahwa cinta orangtualah yang lebih setia di bandingkan dengan pacar atau sekedar teman. Terlebih lagi cina tuhan kepada kita. Di saat-saat seperti inilah sang anak akan sadar bahwa ia hanya menuruti nafsu semata. Mengikuti kesenangan yang hanya sesaat bersama pacar atau teman-temannya. Ketika, sang anak mulai sadar, ia akan berpikir seharusnya ia lebih terbuka kepada tuhan dan juga orangtuanya di bandingkan dengan orang lain. Bila keadaan ini sudah terjadi maka bersiap-siaplah membuat hati anak anda ber empati pada anda lagi. Dengan cara lebih memberikan perhatian yang besar lagi kepada mereka tapi tidak dengan cara di manja. Laibatkan mereka pada kondisi di dalam rumah tangga. Ajarkan mereka memegang peran dan tanggung jawab sebagai orang yang dewasa. Beri mereka kepercayaan penuh agar bisa bertanggung jawab pada setiap apa yang telah mereka lakukan dengan memberikan semua resiko kepada mereka sendiri. Namun, mulailah dari diri sendiri dulu, dari hal-hal kecil, ber emapti kepada anak anda akan memberikan feedback yang bagus nanntinya. Selamat mencoba..,,,

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲