Untuk Setiap tetes Airmatamu, Pak...

| Senin, 19 Januari 2015


Hal yang tak pernah berahir di dunia ini adalah Materi.
Semuanya berawal dari materi. Selalu dan selau kurang untuk ini dan itu. Bahkan orang yang sudah kaya pun masih kekurangan.
Jangan Cuma lihat ke bawah, cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua,, (Red; lagu anak-anak)
(basah oleh keringat-keringat orang-orang tak berpangkat yang sibuk mengumpulkan receh untuk sekedar makan)
Untungnya bapak ibukku tidak pernah lama berkeringat, sebab ketika berkeringat sesegera mungkin keringat itu akan mengering lantaran sengatan mentari dan semburan hujan bserta tiupan angin. Jadinya tubuhnya kering kerontang bak pohon tembakau yang melapuk, kulitnya berkerut seperti daun tembakau yang mengering, muncul bercak tul tul seperti motif daun tembakau, namun selalu berusaha tegak seperti helai-helai daun padi saat tertiup angin. Mungkin terlalu sadis ucapanku kepadamu, wahai orang tuaku, tapi perlu kau tau. Aku , Anakmu, tak pernah malu memiliki kalian. Seperti apapun keadaan kalian saat ini. Karena itulah, aku bangga kepada kalian yang tak pernah lelah melawan masa demi anak anak kalian.
Pernah suatu hari, aku merengek kepada bapakku, meminta sesuatu kepada beliau namun beliau tidak memberikannya  mungkin karena factor ekonomi atau barang tersebut kurang berguna buatku. Aku terus saja merengek dan mengurung diri di kamar. Aku juga membatasi rutinitas makan bersama dengan keluargaku. Walhasil, Bapak berkata “Berhentilah bertingkah seperti anak kecil yang merengek meminta balon!!”. Akupun tersadar dan hanya bisa diam, berpikir betapa egoisnya diriku saat itu. Tanpa mempertimbangkan keadaan ekonomi keluargaku, aku malah menuntut ini dan itu. Naudzubillah,,, itu dulu,, bukan sekarang..
Sekarang, aku sering melihat beliau mendongakkan kepala. Sekedar membiarkan penglihatannya menerawang ke atas atap-atap langit rumah. Mungkin jika tak ada atap bisa saja dipandanginya langit dan bintang di malam dan siang hari. Sejenak ku hampiri dan kupijat bahu dan lengannya. “ada apa pak?” sapaku kemudian. Bapak yang sedari tadi di sampingku mulai menundukkan kepala dan mengedipkan matanya.
“aku tak akan meninggalkan harta, karna aku tak memiliki harta duniawi berupa tanah, uang maupun perhiasan kepada kalian” (istilah maduranya “Sangkolan/ Warisan”). Ucapnya sambil menghirup nafas dan menghempaskannya perlahan.
“tenang saja, aku tidak akan seperti anak kecil yang meminta balon lagi” sahutku sambil tersenyum sekadarnya.
Sejak saat itu, aku berusaha tak meminta uang kepada mereka. Sebisa mungkin aku tahan walau perut melilit di tengah perantauan. Aku rela kelaparan, pontang panting kuliyah dan bekerja asal orang tuaku tak lagi kesusahan karena diriku. Waktu berjalan dan masih baik baik saja, hingga suatu hari bapak tau bahwa aku hidup kesusahan di perantauan. Ia mulai menangis meneteskan air mata di pipinya. Melihat beliau menangis sepertinya bukan hal yang langka apalagi menangis karena diriku. Oh,, tuhannn.. apa sesering itu aku membuat mereka kesusahan sehingga sesering itu pula aku melihat kepiluan dari air mata yang mereka teteskan?.
Pernah juga, karena ulahku, karena keterbatasanku sebagai anak yang bodoh, yang manja, yang sering mengabaikan aturan mereka, mereka menangis bersama. Ya, ibu dan bapakku menangis karena diriku. Bapak lontarkan segelintir ucapan yang nyaris tak bisa aku dengar. Dengan suara serak dan lirih, ia ucapkan hal-hal yang bahkan tak pernah aku pikirkan sebelumnya.
“maaf,, aku tidak bisa memenuhi semua kebutuhanmu selama ini. Membelikanmu sepeda motor dan memberimu uang yang banyak.”
Aku tercengang mendengarnya. Kata-kata itu seakan hendak meruntuhkan langit ke bumi ini. Air mataku tak bisa kutahan lagi. Sambil tersedu-sedu aku berkata, “tidak,, tidak,, bukan itu yang aku butuhkan”. aku hanya butuh perhatian dan kasih sayang  mereka sebagai orang tuaku. Itu saja sudah cukup. Uang bisa di cari tapi kalian tak kan mampu aku beli dan tukar dengan apapun.
Tangisan mereka adalah bukti bahwa mereka menyayangiku lebih dari rasa sayangku kepada mereka. Sekarang adalah saat yang tepat untuk membuat senyuman dan tawa di wajah mereka. Aku bahagia melihat mereka bahagia, aku menangis melihat mereka kesusahan. Maafkan sikapku, maafkan keegoisan anakmu ini. Aku tak mau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi tapi aku bisa membuktikan bahwa aku akan membahagiakan kalian selamnya. Terimakasih atas waktu yang selalu kalian luangkan untukku saat kalian harusnya tertidur lelap dari kepenatan di malam dan siang hari. Terimakasih sudah sering mengantar kami bertiga sekolah dan les dengan sepeda motor butut satu-satunya milik kita. tanpa mengeluh kau berkta, “namanya juga ibadah. Jadi supir tidak apa-apa. Itu sudah kewajiban. Jadi kaupun harus mengantarkan dan menjemput adikmu juga kalau aku tidak bisa menjemput mereka. yang ikhlas, niatkan karena ibadah. Allah maha tahu, malaikat juga mencatat.”
“Jangan merasa selalu kurang uang. Bagaimana dengan Imanmu? Ilmumu? Apa kau pernah merasa kurang???”
Aku hanya terdiam. Kusadari semua perkataan mereka benar aturan yang terlihat protektif dan keraspun benar, mungkin pemikiranku saja yang terlalu ikut arus kehidupan zaman anak sekarang.
Sering kali, teman-teman mengajak shopping, beli ini dan itu, jalan-jalan maupun sekedar jajan, entah teman-teman kantor, kuliyah, teman luar rumah maupun kosan. Dan sering kali juga, aku berpikir keras. Menghitung, jika aku pergi dan bersenang-senang sendiri lantas bagaimana dengan kebutuhan untuk mereka? Untuk bapak, ibuk, adek yang masih sekolah dan kuliyah. Tentu, kebutuhan mereka semua adalah prioritas utamaku saat ini. Aku tidak ingin mereka kekurangan dan kesusahan seperti waktu aku sekolah dan kuliyah. Aku benar-benar tidak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan dulu. Cukup sekali dan aku saja. insyAllah aku ikhlas. Jadi maaf, bukannya aku tidak kompak, tapi aku lebih suka makan, berbelanja, dan menikmati semua hasilku bersama keluargaku. Mungkin kalian merasa tidak nyaman dengan pemikiranku yang tidak gaul bahkan kuno tapi aku sedang ingin menikmati moment-moment bahagia bersama mereka yang baru aku rangkai. Silahkan, bilang aku pelit karena aku jarang jajan di luar, itu lebih baik daripada aku makan ini itu, beli ini itu tapi keluargaku tidak bisa merasakan apa yang sedang kunikmati kala itu. Sebisa mungkin, aku harus adil dalam hidupku. tidak hanya bisa membuat mereka menangis tapi juga harus lebih bisa membuat mereka tertawa. Tertawa bahagia karenaku, karena Allah juga tentunya. Aku wajib membehagiakan mereka dan mereka berhak bahagia atas diriku. Aku lebih ikhlas di bilang pelit, tidak bisa jajan ini itu, belanja ini itu tapi aku mampu bersedekah kepada yang berhak menerimanya  terutama orang orang disekitarku. Bukankah, baginda Rasulullah Saw juga sering hidup dalam kemelaratan padahal shohabat dan orang-orang selalu memberi beliau makanan, harta dan materi lainnya tapi beliau gunakan untuk berjihad (kebutuhan perang) dan membagikannya lagi kepada yang lebih berhak. Beliau memilih untuk berpuasa saat tak ada apapun yang bisa dimakan tanpa mengeluh daipada membelanjakkan uangnya untuk keperluannya sendiri. Teringat pula, sebelum beliau wafat, uang sejumlah tujuh dinar beliau tinggalkan untuk di berikan kepada orang miskin, beliau sodakohkan sebelum uang itu dipertanyakan di ahirat nantinya. Beliau berkata, 3 hal yang takkan putus setelah meninngal. Iman, Ilmu yang bermanfaat dan shodaqoh jariyah.
Dari semua yang ku alami, ada banyak hal yang kupelajari. Hidup dengan penuh rasya syukur yang selalu mereka ajarkan pada anaknya rasanya menyenangkan. Cukup nikmati yang ada tanpa tuntutan. Itu saja. Semuanya kembalikan kepada Allah lagi, biar Allah yang memberi balasan atas segala hal yang telah kita lakukan. Banyak orang yang tidak paham akan posisiku, kuakui, aku memang egois tapi tidak untuk keluargaku lagi. Syukur-syukur kalo aku tidak menjadi orang egois lagi dalam hidupku. So, Bantu aku ya guys,,,, :)

2 komentar:

  1. Perjuangan dan pengorbanan.
    Yah..Semoga Allah lancarkan segala usaha dan kerja kerasmu.
    Jangan pernah patah semangat, saya yakin akan lebih banyak kebahagian kelak, keluarga pasti Bangga punya anak seperti Ela.

    Semangat Ela. ;) ;)

    BalasHapus

Next Prev
▲Top▲