Kata Mereka, Kataku, dan Kata Tuhan

| Selasa, 20 Januari 2015


Banyak hal yang pernah aku dengar dari perkataan orang lain. Dan salah satunya masih berhubungan denganmu.
Mereka selalu bilang bahwa seharusnya aku bersyukur karena aku beruntung sekali bisa mendapatkanmu.
 Aku yang hina ini mendapatkan orang sebaik kamu. Aku yang mungkin jelek dalam fisik dan tingkahlaku bisa mendapatkan kamu yang menurut mereka keren, yang menurut mereka pemberani dan vokal, kamu dikenal dermawan dan suka menolong, kamu dikenal mudah bergaul dan welcome kepada siapapun, kamu di kenal cerdas dan tegas, kamu dikenal ramah dan santun, kamu dikenal lembut dan penyabar, kamu dikenal taat beribadah dan religious, kamu dikenal sederhana dan apa adanya, kamu dikenal introvert dan bisa menyimpan rahasia, kamu dikenal gaul dan luas pengetahuan, kamu di kenal up to date dan canggih, kamu dikenal bertanggung jawab dan gigih, kamu di kenal dewasa dan bijak, kamu dikenal penyayang dan setia, dan kamu dikenal tampan dan menarik. Ya,,, itu kamu.
Mereka selalu membandingkan kita, aku yang jelek dan tidak menarik, aku yang kadang ektrovert dan cerewwet, aku yang suka mengekang dan over protektif, aku yang jalang dan terbuang, aku yang hina dan tersisihkan, aku yang cengeng dan bergantung pada orang lain, aku yang penakut dan manja, aku yang sering menyusahkan orang lain dan pembawa sial, aku yang tidak memiliki kemapuan apa-apa dan banyak omong, aku yang bodoh dan tidak berguna, aku yang sok bergaya dan kuno, aku yang kurang harta dan matre, aku yang banyak menuntut dan tidak dewasa, aku yang pemarah dan sering murka, aku yang gila dan teman setan. Ya, itu aku.
Itu yang aku dengar, aku baca, dan aku lihat dari mereka. Mereka benar, aku “beruntung” mendapatkanmu. Maka,, segera menjauhlah dariku. Dari hidupku dari jiwa dan ragaku. Agar kamu yang tampan tak terhalangi aku yang jelek. Kamu yang baik tak terbebabni aku yang buruk. Kamu yang bersih tak ternodai aku yang kotor. Kamu yang pintar tak tertutupi aku yang bodoh. Kamu yang dewasa tak kan melayani sifat kekanak kanakanku yang penuh amarah. Kamu yang baik dan aku yang jahat.
Oleh Karena itu, aku tak ingin menjadi seonggok benalu untukmu. aku sudah puas dengan semua cemooh itu, darimu dan dari mereka juga. Semua kata-kata itu adalah hadiah terbesar bagiku. Karena, aku bisa berangsur angsur pulih dan memperbaiki diri. Aku harus bangkit dan sadar untuk intropeksi diri. Aku tak pernah mempertanyakan “apakah aku seperti itu? Seperti apa yang mereka katakan?” yang aku pikirkan adalah setidaknya mereka mengkritik serta menilai, dan aku harus menerima semua hujatan itu dan mereparasi diri, sifat dan imanku.
Tidak ada hak untukku untuk mebalas semuanya, jika baginda Rasulullah Saw tetap menyuapi orang buta yang selalu menjelekkannya kenapa aku harus marah ketika semua itu memang salahku. Baginda Rasulullah Saw tidak pernah membalas ketika orang berusaha membunuhnya dengan segala cara, membencinya, meludahinya, melemparnya dengan batu hingga berdarah darah lalu apa hakku pada kalian?. Aku yang hina bahkan tidak lebih baik dan lebih kecil daripada lalat ini.
Kata-kata “BERUNTUNG” itu yang sedang aku renungkan. “apa aku benar-benar seberuntung itu, Tuhan???”. Apa selama bersamanya, dia mampu merubahku yang hina ini menjadi pribadi yang suci? Atau aku yang tak mau mengikuti himbauannya?. Apa dia selalu membacakanku ayat ayat indahmu dan aku tak mendengarkannya?. Apa dia pernah menjadi imamku saat sholat lima waktu sekalipun itu di musholla maupun mesjid? Atau aku yang tidak mau menjadi makmumnya?. Apakah dia benar-benar menciantaiku karenaMu? Atau karna fisikku yang biasa biasa saja ini?.  Apa dia benar-benar menuntunku ke jalan yang kau ridhoi, atau aku yang tak pernah mau saat kau meridhoi kami?. Apa dia benar-benar membahagiakanku dengan tingkah dan sifatnya? Atau aku saja yang terlalu sering menangisiNya?. Apa dia berkorban untukku karena menginginkan restuMu? Atau aku yang memaksanya?. Apa selama ini dia pernah menyayangiku dengan lembut? Atau aku yang terlalu sensitive dengan kata-kata dan ringan tangannya?. Apa dia yang dari dulu memperjuangkan diriku? Atau aku yang mati matian ingin bersamanya?. Apa dia yang membenarkanku ketika aku salah? Atau aku saja yang tak mau memperbaiki kesalahanku?. Apa dia tak pernah mnjahatiku? Atau aku yang menjahati diriku sendiri?. Apa dia selalu menghargaiku? Atau aku saja yang merasa rendah di mata banyak orang?. Apa dia tak pernah membohongi orang lain saat bersamaku? Atau aku yang selalu berpikir bahwa dia pembohong?. Apa dia yang selalu melindungiku? Atau aku yang tidak merasa aman bersamanya?. Apa di yang selalu meluangkan waktu untukku? Atau aku yang selalu merasa kurang waktu?. Apa dia sering memperhatikanku? Atau aku sering merasa kurang perhatian?. Apa dia peduli ketika aku menangis? Atau aku yang selalu memintanya untuk peduli padaku?. Dalam hal ini aku tidak akan mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar karena jelas, menurut kalian pastilah aku yang salah. posisiku tidak pernah benar dan aku akui kepada kalian dan kepada Tuhan bahwa aku yang bersalah oleh karenanya aku hanya mampu mengemis maaf kepada kalian dan kepada sang pencipta.
Namun, yang perlu di garis bawahi ialah presepsi orang lain tidaklah sama. Anda di posisi anda dan dengan sudut pandang anda, dan saya di posisi saya dengan segala yang saya rasakan selama ini. Sesakit apapun cemohan dan hinaan itu, akan saya terima dan biarlah Allah yang menolong saya. Saya hanya bisa tersenyum kepada anda yang faktanya saat ini menjauhi saya dan melupakan semua janji-janji anda. Syukur-syukur kalau anda sudah melupakan saya dan semua janji anda kepada saya karena saya tidak akan pernah menagih janji anda lagi. Saya ikhlaskan janji anda dan biarlah tuhan mengganti janji-janji semu yang indah itu dengan janji tuhan yang nyata dan abadi. Segala hal terindah dari anda akan saya ingat dan yang melukai hati lagi lagi biarlah saya dan tuhan yang menyimpan semuanya dengan rapi. Anda baik dan akan selalu menjadi orang baik seperti penilaian orang lain namun saya tidak ingin bersama anda yang kata mereka baik. Meskipun pada kenyataannya saya belum bisa melupakan anda. Anda cukup bijak dan memiliki alasan untuk meninggalkan saya dan saya juga memiliki alasan untuk tidak mengharapkan anda lagi.
Saya sadar diri, perempuan hina ini tidaklah pantas bersanding dengan anda yang mulia. Saya hanyalah butiran debu hitam, suram atau mungkin kain pel kumal seperti yang pernah anda lontarkan kepada saya. Lepaskanlah saya, lupakanlah saya, Anda orang baik, Anda sangat baik dan Anda terlalu baik kepada saya.
Biarlah Tuhan yang tentukan jalan takdir Kita. jalan takdir orang hina dan orang mulia. Dan biarlah tuhan saja yang mengsihani saya, menuntun saya, merangkul saya, mencintai saya dan saya ingin menjadi seperti kekasihNya.
Kepada Anda,,, Pacar Tiga Tahun Saya..

1 komentar:

Next Prev
▲Top▲